Kemasan dan Pemasaran Produk Jadi Kendala UMKM Sumbar

"Pelaku UMKM masih minim pengetahuan soal pemasaran dan kemasan produk yang mereka buat"
Seorang bule belajar membuat Sanjai di salah satu tempat UMKM di Kota Bukittinggi pada Januari 2014 yang lalu. (KLIKPOSITIF/Haswandi)

PADANG, KLIKPOSITIF -- Direktur Pusat Studi Pariwisata Unand Sari Lenggogeni mengatakan, pengembangan Pariwisata di Sumbar khususnya dibidang Industri Ekonomi Kreatif seperti UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) masih bergerak lambat. Pasalnya pelaku UMKM masih minim pengetahuan soal pemasaran dan kemasan produk yang mereka buat.

"Kebanyakan dari pelaku baru bisa memasarkan di warung atau kedai-kedai mereka saja. Masih sedikit dari mereka yang bisa menembus pasar yang lebih besar," sebutnya usai kegiatan Pembinaan dan Pelatihan Pelaku Industri Ekonomi Kreatif se Kota Padang.

Pasar besar yang dimaksud Sari Lenggogeni ini adalah pelaku UMKM tidak terbatas dalam pemasaran produk, seperti penjualan dengan memanfaatkan teknologi atau media online. Dengan begitu katanya, penghasilan yang didapat akan lebih menjanjikan ketimbang menjual di warung-warung saja.

Namun, lanjutnya, pemasan harus dibarengi dengan kemasaan yang bagus, sebab ketertarikan konsumen tidak terlepas dari hal itu. "Jika mereka sudah bisa jualan online, kemasan juga harus jadi perhatian karena produk mereka akan bersaing dengan produk-produk yang lain. Persaingan penjualan online juga harus diperhatikan," jelasnya.

Ia melihat, Lemahnya pemasaran dan kemasan di Sumbar justeru ditemukan pada kuliner-kuliner, padahal kuliner memiliki pangsa pasar yang sangat menjanjikan.

Ke depan label atau merek produk milik pelaku usaha harus punya ciri khas dengan daerah dan bisa dipatenkan terutama bisa berlabel halal sesuai dengan langkah Sumbar menuju wisata halal dunia. Dengan begitu pelaku usaha sudah punya produk yang ready di pasaran.

[Joni Abdul Kasir]