Ekspor Teh Sumbar ke Eropa Terhalang Antrakuinon

Produk Teh PT Mitra Kerinci
Produk Teh PT Mitra Kerinci (KLIKPOSITIF/Ocky Anugrah Mahesa)

EKONOMI, KLIKPOSITIF -- General Manager ‎Tenant dan Comercial PT Mitra Kerinci Yohanes Agung mengatakan, Dewan Teh Indonesia dan Asosiasi Teh Indonesia keberatan terkait limitasi zat Antrakuinon 0,02 persen di pasar Eropa. Bagi Asosiasi sebut Yohanes, hal tersebut membuat ekspor teh Indonesia menurun.

PT Mitra Kerinci merupakan salah satu perusahaan produsen teh yang kerap melakukan kegiatan ekspor berbagai jenis teh ke pasar internasional-salah satunya Eropa. Penetapan batas Antrakuinon tersebut telah membuat volume ekspor perusahaan yang berkebun di Liki, Solok Selatan tersebut turun 75 persen.

"Kebijakan itu mulai diterapkan tahun lalu, sehingga produk kami dilarang masuk ke pasar Eropa," katanya pada KLIKPOSITIF. Kandungan Antarakuinon produk teh Liki tercatat sebesar 0,04 persen, "Jadi setelah pengujian di laboratorium Eurofin, produk Sumatera Barat tidak bisa masuk (Eropa) tahun lalu itu," ucap Yohanes.

Baca Juga

Sementara itu berdasarkan catatan perusahaan, pelarangan teh Indonesia masuk pasar Eropa yang membuat volume ekspor menurun menurut Direktur PT Mitra Kerinci Yosdian Adi Pramono patut dipertanyakan. Pasalnya limitasi zat itu bagi dia tidak rasional.

Antrakuinon sendiri merupakan senyawa metabolit sekunder yang disebabkan oleh asap dalam pembakaran kayu dalam proses pembuatan teh. Namun sebenarnya aroma kayu tersebut merupakan nilai yang dicari oleh ‎pasar konsumen di Eropa.

Selain itu di dalam daun teh, Antrakuinon banyak terdapat di bagian daun, bunga, biji, dan bagian akar. Antrakuinon memiliki peranan penting dalam transport elektron untuk menjaga fungsi biologi teh. Jadi saat daun teh diseduh, kadar Antrakuinon tidak begitu membahayakan bagi tubuh.

"Untuk teh saja maksimal 0,02 persen (Antarakuinon), bagaimana pula itu? jangan-jangan ini sudah jadi politik dagang,?" ucap dia. Kendati begitu, dampak limitasi atau ambang batas Antrakuinon tersebut tidak hanya dirasakan oleh Indonesia. Srilangka, Tiongkok dan Taiwan adalah negara lain yang harus menelan pil pahit ekspor teh di balik limitasi Antarkuinon.

Kebijakan itu menurut Yosdian membuat harga teh di Eropa melambung sehingga harus membuat Eropa melakukan penelitian kadar Antrakuinon dalam teh yang baik untuk dikonsumsi. "Selama penelitian ulang, ada pengurangan kadar dari 0,02 persen menjadi 0,01 persen, dan itu cukup menguntungkan bagi kami (Mitra Kerinci) di awal tahun ini," tuturnya.

Di sisi lain, Yohanes menambahkan, Asosiasi Teh Indonesia dan Dewan Teh Indonesia juga telah mengajukan keberatan kepada Kementerian Perdagangan, serta bekerja sama dengan negara eksportir teh lainnya untuk terus melobi Eropa, "Dengan demikian, seiring dengan perubahan yang dilakukan dan dikaji ulang, ekspor teh Indonesia khususnya Sumbar bisa naik lagi.

Berdasarkan data, selama satu tahun, total produksi teh PT Mitra Kerinci tercatat mencapai 4800 ton setahun. Dan dari jumlah yang ada, jumlah ekspor ke pasar luar internasional mencapai 10 persen dari keseluruhan produksi.(*)

Penulis: Ocky Anugrah Mahesa | Editor: -