Pasokan Berlebih, Harga Semen di Indonesia Anjlok

"Produksi semen di Indonesia mencapai 106 juta ton"
Ilustrasi (KLIKPOSITIF/Ocky Anugrah Mahesa)

EKONOMI, KLIKPOSITIF -- Asosiasi Semen Indonesia mencatat, sejak tahun 2015 harga semen di Indonesia terus turun. Dengan hal itu, membuat penjualan komoditas semen terganggu di tengah kondisi kelebihan pasokan.

Menurut data asosiasi itu, saat ini produksi semen di Indonesia mencapai 106 juta ton, sementara kebutuhan hanya sebanyak 63 juta ton.

"Kondisi ini akibat ekspansi produksi semen yang dilakukan secara besar-besaran oleh pabrik semen di Indonesia sejak tahun 2014 lalu," kata Ketua Asosiasi Semen Indonesia Widodo Santoso.

Ia menjelaskan harga setiap sak semen di Pulau Jawa pada akhir 2015 masih senilai Rp70.000 per sak. Pada semester pertama tahun ini, satu sak semen turun menjadi Rp55.000—Rp60.000.

Begitu juga dengan harga semen di wilayah timur Indonesia, yang awalnya senilai Rp80.000-Rp85.000 per sak turun 15% menjadi senilai Rp65.000—Rp70.000 per sak. Bahkan, harga semen di Papua yang awalnya Rp1,5 juta per sak menjadi Rp400-500 ribu per sak.

"Harga semen di Indonesia sekarang berada di bawah harga rata-rata pasar Asean," tuturnya.

Menurutnya pemerintah dan investor tak memperhitungkan pertumbuhan konsumsi tahunan ketika mengembangkan kapasitas.

"Investasinya kebablasan, pertumbuhan kapasitas semen tidak sejalan dengan kalkulasi pertumbuhan konsumsinya," ucap Widodo.

Berdasarkan data, kenaikan permintaan semen setiap tahun rata-rata sebesar 5% atau setara 3 juta ton. Dengan demikian, titik keseimbangan antara permintaan dan kapasitas baru tercapai dalam 10 tahun ke depan. Bahkan sampai 2026 nanti, kapasitasnya masih lebih tinggi.

Dengan kondisi tersebut, pemerintah perlu memoratorium penerbitan izin pabrik semen baru mulai tahun ini, karena bagi Widodo dengan adanya catatan izin yang sudah keluar boleh tetap dijalankan dulu. Tujuannya supaya utilisasi bisa lebih optimal.(*)