Pemerintah Bakal Pecat Direksi BUMN yang Merugi

Ilustrasi
Ilustrasi (Net)

EKONOMI, KLIKPOSITIF -- Kementerian Badan Usaha Milik Negara tidak main-main dengan konsekuensi jika sebuah perusahaan milik negara berkinerja buruk sepanjang paruh pertama tahun 2017 ini.

Menurut data, Kementerian yang dipimpin oleh Rini Sumarno itu mencatat terdapat 24 perusahaan negara diketahui telah merugi yang disebabkan oleh beberapa faktor.

baca juga: Pengamat Ekonomi Sebut BUMN Bisa Menarik Gerbang Seluruh Sektor Ekonomi Nasional

"Salah satu faktornya adalah kelalaian manajemen dalam mengelola perusahaan serta kondisi pasar," kata Deputi Bidang Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha Kementerian BUMN Aloysius Kiik Ro.

Dengan kondisi seperti itu, Kementerian BUMN kata Aloy akan mengganti atau memecat direksi BUMN yang tidak bisa berkembang dengan baik. Namun keputusan tersebut akan disesuai dengan penyebab kerugian perusahaan.

baca juga: Satgas BUMN Salurkan Bantuan Penanganan COVID di Pessel

"Kalau dia (anggota direksi) tidak perform, kami harus lakukan apa yang kami lakukan, ganti orang," tegas Aloy.

Sekretaris Kementerian BUMN Imam A Putro juga menuturkan, sepanjang paruh pertama tahun ini, sebanyak 24 BUMN masih mencatat kerugian. Hingga akhir tahun, Kementerian BUMN menargetkan bisa menekan jumlah BUMN yang merugi seminim mungkin.

baca juga: Bersama Satgas Bencana BUMN, Jasa Raharja Sumbar Salurkan Bantuan Penanganan COVID-19

"Bu Menteri (Menteri BUMN Rini Soemarno) mengingatkan entah untuk yang ke berapa kali supaya akhir 2017 tidak boleh ada atau seminimal mungkin BUMN yang masih mengalami kerugian," ungkapnya.

Dengan begitu, Kementerian BUMN mengajak seluruh manajemen BUMN untuk mau bekerja ekstra keras demi menghasilkan performa terbaik. "Kalau tidak mau diajak cepet atau jalannya kayak kura-kura ya minggir saja," ujar Imam kemudian.

baca juga: Selaku PIC Satgas Bencana BUMN Sumbar, PT KAI Kembali Salurkan Bantuan Penanganan COVID-19

Baca Juga :  Sepanjang 2017, 24 BUMN Merugi

Sepanjang semester I 2017, 24 dari 118 perusahaan pelat merah tercatat merugi. Kendati demikian, secara keseluruhan BUMN juga telah menyumbang penerimaan negara dengan setoran pajak senilai Rp97 triliun dan dividen sebesar Rp32 triliun.

Realisasi dividen tersebut sudah ditetapkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Rp42,7 triliun, termasuk dividen interim yang disetor tahun 2016, yakni sebesar Rp1,5 triliun.

Sebelumnya Kementerian BUMN telah menyiapkan sejumlah formula untuk mengatasi persoalan kerugian yang dialami oleh perusahaan plat merah.

Salah formula andalan pemerintah yakni dengan restrukturisasi. Upaya tersebut dilakukan dengan menghentikan konsep bisnis yang tak menguntungkan dan mengalihkannya ke bisnis lain.

Adapun 11 BUMN yang akan direstrukturisasi pada Agustus lalu antara lain PT Nindya Karya (Persero), PT Merpati Nusantara Airlines (Persero), PT Kertas Kraft Aceh (Persero), PT Survey Udara Penas (Persero), dan PT Industri Sandang Nusantara (Persero).

Kemudian PT Iglas (Persero), PT Kertas Leces (Persero), PT Djakarta Lioyd (Persero), PT Istaka Karya (Persero), PT Varuna Tirta Prakarsya (Persero), dan PT Primissima (Persero).(*)

Penulis: Ocky Anugrah Mahesa