Penurunan Suku Bunga KUR Dinilai Belum Sentuh Seluruh Pelaku UMKM

"Langkah ini akan semakin meningkatkan jumlah pelaku UMKM"
Ilustrasi (Net)

EKONOMI, KLIKPOSITIF -- Pengamat Ekonomi dari Indosterling Capital, William Hanley mengatakan rencana pemerintah untuk menurunkan suku bunga Kredit Usaha Rakyat merupakan hal yang positif.

Bagi dia, penurunan suku bunga kredit tersebut bisa memicu pertumbuhan ekonomi masyarakat kelas bawah dan kemudian sekaligus juga mendukung tumbuhnya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). 

"Secara sederhana, semakin rendah tingkat suku bunga, maka tingkat pengembalian ke bank maupun lembaga penyalur KUR pun semakin kecil. Efek lain yang berpotensi timbul adalah langkah ini akan semakin meningkatkan jumlah pelaku UMKM," katanya.

Dalam rencana Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah untuk menurunkan suku bunga KUR menjadi 7,0 persen efektif per tahun atau turun 2 persen dari bunga yang berlaku pada tahun ini.

Kendati demikian sebut William, langkah penurunan suku bunga ini belum serta merta akan efektif menjangkau seluruh pelaku UMKM. Masalah penyaluran KUR kepada pelaku UMKM, tidak hanya soal suku bunga.

"Ada masalah yang jauh lebih penting dan hingga sekarang masih mereka temui. Masalah-masalah ini yang harus diatasi pemerintah, tentunya beserta bank dan lembaga penyalur KUR," sebut dia.

Ia menjelaskan masalah serius yang patut disikapi adalah persyaratan berupa penyertaan agunan. Ia menyadari bahwa pelaku UMKM identik dengan kualitas usaha yang tidak bankable. Namun, lanjutnya, hal ini jelas bertentangan dengan praktik pelaksanaan KUR di masyarakat.

"Masih saja pelaku UMKM ini diminta untuk menyertakan agunan. Tampak jelas ada ketakutan bank yang diberi amanah pemerintah menyalurkan KUR," papar William.

Padahal berdasarkan fakta lapangan, ia menemukan rasio kredit bermasalah KUR itu amat sangat rendah. Sebagai gambaran pada tahun lalu, rasionya hanya 0,37 persen. Sedangkan rasio kredit bermasalah perbankan secara umum mencapai 3,1 persen.

"Untuk mengatasi masalah ... Baca halaman selanjutnya