Penambahan Cuti Lebaran Bikin Laju Ekonomi Lebih Aktif

"Jika cuti lebaran dilaksanakan selama 10 hari saja, maka laju perekonomian menjadi terhambat"
Wakil Presiden, Jusuf Kalla (Net)

EKONOMI, KLIKPOSITIF -- Pemerintah menilai, penambahan hari cuti bersama saat lebaran nanti bisa mendongkrak laju ekonomi. Hal itu diungkapkan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Menurutnya, jika cuti lebaran dilaksanakan selama 10 hari saja, maka laju perekonomian menjadi terhambat.

"Kalau libur kan, banyak yang pergi ke tempat liburan, itu bayar. Beli makanan macam-macam. Toko-toko, hotel pastikan buka, tidak mungkin libur Lebaran, toko, hotel libur juga. Itulah ekonominya," katanya.

Menurutnya, aturan mengenai cuti bersama hanya berlaku untuk PNS dan BUMN saja. Sedangkan swasta, menjadi keputusan antara pekerja dan pengusaha apakah libur ini digunakan atau tidak, menyesuaikan kebutuhan perusahaannya.

Oleh karena itu, ia menegaskan cuti Lebaran bukan berarti perekonomian stagnan. Malahan kata dia lebih meningkat.

"Cuma berbeda porsinya yang pabrik administrasi libur dan restoran buka dan makin banyak isinya. Itu bergerak ekonomi kita justru," ujarnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, awalnya cuti bersama Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran 2018 ditetapkan sebanyak 4 hari, yaitu 13, 14, 18 dan 19 Juni 2018.

Namun, pada 18 April 2018, berdasarkan SKB tiga Menteri yang ditandatangani oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) Asman Abnur, Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri dan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, cuti bersama menjadi tujuh hari.

Sesuai SKB, total libur Lebaran dimulai pada 11 Juni hingga 20 Juni 2018. Detailnya adalah cuti bersama pada 11, 12, 13, 14 Juni.

Libur Lebaran 15 dan 16 Juni, 17 Juni jatuh pada hari Minggu, dan cuti bersama pada 18, 19, 20 Juni 2018.(*)

Sumber: Suara.com