Harga Turun, Petani Sawit di Pasbar Ini Sukses dengan Ternak Lele

Usaha lele dari petani sawit ini membuatnya mampu memiliki 1,5 hektar lahan sawit di Pasbar.
Usaha lele dari petani sawit ini membuatnya mampu memiliki 1,5 hektar lahan sawit di Pasbar. (KLIKPOSITIF/Hasby Tan Mudo)

KLIKPOSITIF -- Jangan menyerah sebelum mencoba. Setidaknya, kata-kata ini bisa disematkan kepada seorang petani sawit dari Pasaman Barat ini. Harga sawit yang terus menurun di pasaran membuat para petani sawit harus mencari alternatif lain untuk tetap bertahan hidup. 

Ini pulalah yang dialami oleh Apriono (54) atau yang lebih dikenal dengan Pak Ono. Warga Perumnas Saiyo, Durian Kilangan, Kecamatan Kinali, Kabupaten Pasaman Barat ini harus memutar otak supaya dapur tetap mengepul.

Dia pun menetapkan pilihan untuk memanfaatkan pekarangan rumahnya sebagai kolam lele sejak tahun 2015 lalu. Saat ini, dia memiliki empat tambak lele yang dibuat dari terpal dan bambu sebagai penyangga atau Biofloc dan dua kolam permanen yang terbuat dari semen.

Baca Juga

Selain itu, dia memanfaatkan bahan bambu untuk membuat kolam lele tersebut dengan cara membelah dan menjadikannya sebagai pagar disekeliling tambak lalu diberi terpal untuk penampung air.

Tambak lele itu berada tepat di depan dan samping rumahnya, setiap tambak atau kolam memiliki ukuran yang bervariasi menyesuaikan lokasi. Ada yang berukuran 2x4 meter dan ada juga berukuran 1x3 meter. Namun, memang butuh pengetahuan yang cukup dan memakan waktu untuk menghasilkan lele yang bagus.

"Sebelum diisikan benih lele, kolam terpal itu terlebih dahulu diisi air dan didiamkan sekitar satu sampai dua minggu hingga berlumut. Bila kondisi air di dalam tambak sudah tampak kehijauan dan terdapat jentik nyamuk, barulah dimasukkan benih lele seukuran 4 sampai 10 sentimeter," jelasnya.

Dia menambahkan, dengan usaha ternak lele tersebut, kebutuhan keluarganya sangat terbantu pasca banting stir dari petani sawit. Betapa tidak, harga ikan lele di pasaran saat ini berkisar Rp17 ribu sampai Rp18 ribu per kilonya dan bisa mencapai Rp25 ribu jika ada pesanan untuk pesta.

"Jika dijual ke pedagang harganya Rp17 ribu hingga Rp18 ribu per kilo, tapi kalau dijual untuk kebutuhan pesta harganya bisa sampai Rp25 ribu per kilo karena ikan sudah dibersihkan. Meski ada pekerjaan tambahan, namun hasilnya lebih menjanjikan," kata Apriono.

Dikatakannya, keuntungan dalam beternak lele sangat tipis, karena dia murni menggunakan pakan konsentrat tanpa ada campuran makanan lain. Menurut Apriono, jika mencampurnya, akan menimbulkan bau yang tidak sedap sehingga mengganggu tetangga.

"Menggunakan pakan konsentrat lebih murah karena jika menggunakan pakan lele, harganya saat ini cukup mahal yakni berkisar Rp420 ribu per karung isi 40 kilogram," jelasnya.

Pak Ono sendiri mengaku pernah mengalami jatuh bangun dalam menekuni usaha ternak lelenya tersebut, salah satunya tidak berkembangnya benih yang sudah ditebar. Tidak itu saja, dalam hal pemasaran, Pak Ono juga harus melakukannya sendiri meskipun harga jual lele saat itu tidak sebanding dengan biaya pakan dan perawatannya.

Namun, dia terus belajar bagaimana agar lele bisa hidup dan berkembang dengan baik. Bahkan, saat ini dia sudah memiliki lahan sawit sendiri seluas 1,5 hektar sebagai investasinya untuk masa mendatang serta mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga ke bangku kuliah.

“Prospek ternak lele ini cukup bagus. Asalkan kita mau telaten dan tidak mudah menyerah pada saat gagal, usaha itu pasti akan membuahkan hasil," tutup Pak Ono.

[Hasby Tan Mudo]

Penulis: Agusmanto | Editor: Eko Fajri