Pembiayaan Utang Negara Hingga Juli 2018 Menurun

Ilustrasi
Ilustrasi (KLIKPOSITIF/Ocky Anugrah Mahesa)

EKONOMI, KLIKPOSITIF -- Kementerian Keuangan melalui APBN Kita bulan Agustus 2018 mencatat realisasi pembiayaan utang telah mencapai Rp205,57 triliun dari Rp399,22 triliun yang ditetapkan pada APBN 2018 atau telah mencapai sebesar 51,49 persen APBN hingga bulan Juli lalu.

Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2017, realisasi pembiayaan utang mengalami pertumbuhan negatif alias menurun 30,64 persen. Pembiayaan utang ini diperoleh melalui penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) maupun pengadaan pinjaman.

SBN terdiri atas Surat Berharga Negara Konvensional atau Surat Utang Negara (SUN) dan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN/ Sukuk Negara) telah terealisasi sebesar Rp221,94 triliun (53,54 persen APBN).

Baca Juga

Berdasarkan data, jumlah ini turun 27,86 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebagai upaya untuk menyelaraskan laju pertumbuhan utang dengan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB).

Sukuk Negara sendiri pada bulan Agustus lalu, telah mencapai 1 dasawarsa dalam penerbitannya. Peranan Sukuk Negara semakin penting dalam APBN, tidak hanya membiayai defisit secara umum namun juga membiayai kegiatan tertentu yang earmarked.

Sementara itu target Pinjaman ditetapkan sebesar negatif Rp15,30 triliun dan telah terealisasi sebesar negatif Rp16,37 triliun atau tumbuh positif 45,51 persen (yoy). Pinjaman Pemerintah terdiri atas pinjaman dalam negeri dan pinjaman luar negeri.

Lalu untuk pinjaman dalam negeri yang ditetapkan sebesar Rp3,14 triliun realisasinya mencapai negatif Rp83,3 miliar. Negatifnya realisasi pinjaman dalam negeri dikarenakan penarikan pinjaman dalam negeri yang dilakukan lebih kecil dari pada pembayaran cicilan pokok pinjaman dalam negeri.

Adapun pinjaman dalam negeri yang dilakukan sampai dengan akhir Juli 2018 adalah sebesar Rp429,8 miliar sementara pembayaran cicilan pokok pinjaman dalam negeri sebesar Rp513,0 miliar.

Di sisi lain, pinjaman luar negeri hingga akhir Juli 2018 telah terealisasi sebesar negatif Rp16,29 triliun dari Rp18,44 triliun yang ditetapkan dalam APBN 2018 atau sebesar 88,35 persen APBN.

Nilai ini tumbuh positif 44,52 persen dibandingkan periode sama tahun 2017 yang terealisasi sebesar Rp11,25 triliun, dikarenakan penarikan pinjaman luar negeri sebesar Rp23,23 triliun lebih kecil dibandingkan pembayaran cicilan pokok sebesar Rp39,52 triliun.(*)

Penulis: Ocky Anugrah Mahesa