Pemerintah Harus Perhatikan Hal Ini untuk Jaga Neraca Perdagangan

Ilustrasi sektor pangan yang diimpor pemerintah beberapa waktu lalu
Ilustrasi sektor pangan yang diimpor pemerintah beberapa waktu lalu (Net)

EKONOMI, KLIKPOSITIF -- Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia ( DPR RI ) menilai bahwa pemerintah perlu menekan defisit sektor minyak dan gas (Migas). Hal itu seiring dengan penerapan program Biodiesel 20 persen (B20).

Dengan adanya langkah tersebut, Ketua DPR RI , Bambang Soesatyo mengatakan, pemerintah perlu memberikan perhatian ekstra pada upaya peningkatkan kinerja sektor tanaman pangan .

Pasalnya menurut politisi Partai Golkar tersebut, nilai impor tanaman pangan ini cenderung meningkat dari waktu ke waktu.

Baca Juga

Selama ini ia menjelaskan, nilai impor migas dan impor bahan pangan cukup signifikan memengaruhi defisit neraca perdagangan .

Keduanya adalah persoalan lama yang tidak bisa dihindari. Langkah impor secara regular harus dilakukan untuk memenuhi permintaan di pasar dalam negeri. 

Menurut catatan yang ia hitung, total kebutuhan BBM dalam negeri sebesar 1,3 juta barel per hari. Produksi lokal hanya mampu menyediakan 680 ribu barel per hari. Sisanya, sebanyak 370 ribu barel per hari harus impor .

"Akibatnya, pada kuartal pertama  2018, sektor migas defisit 2,61 miliar dolar Amerika Serikat (AS), dan pada kuartal kedua  2018 defisit lagi 2,31 miliar dolar AS," katanya dalam sebuah pernyataan resmi.

Ia memaparkan, pertumbuhan impor barang konsumsi atau bahan pangan pun tidak kalah cepat. 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai impor barang konsumsi periode Januari hingga Juni 2018 tercatat 8,18 miliar dolar AS.

Jumlah itu terbilang naik 21,64 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya. Volume impor beras, gula, biji gandum dan meslin serta garam terbilang cukup besar.

Ketetapan pemerintah menerapkan B20 di dalam negeri akan berdampak pada penghematan devisa.

Setidaknya volume impor migas bisa diperkecil pada waktunya nanti. Bamsoet berharap ada upaya ekstra dari pemerintah untuk meningkatkan produksi minyak di dalam negeri.

"Setelah inisiatif B20 itu, sudah waktunya pula pemerintah bersungguh-sungguh mengupayakan peningkatkan kinerja sektor tanaman pangan . Tentu saja tujuannya adalah untuk mereduksi volume impor bahan pangan ," jelas dia.

Masih ada potensi cukup besar untuk meningkatkan produksi beras. Begitu pula dengan tanaman tebu sebagai bahan baku gula.

Sejumlah pabrik gula di dalam negeri pun harus segera direvitalisasi. Ia juga meminta pemerintah agar bisa memobilisasi sumber daya di dalam negeri untuk meningkatkan produksi garam.

Untuk itu, legislator dapil Jawa Tengah itu akan mendorong pemerintah untuk memberi perhatian khusus pada upaya peningkatkan kinerja sektor tanaman pangan itu.

Bagi dia, persoalan lama ini harus segera ditangani dengan perencanaan yang matang dan komprehensif. Sangat disayangkan jika potensi di dalam negeri tidak dimaksimalkan.(*)

Baca Juga

Penulis: Ocky Anugrah Mahesa