Rupiah Menguat, DPR: Pemerintah dan BI Harus Tetap Waspada

"Tercatat pada Jumat 16 November 2018 lalu, nilai tukar rupiah sudah memasuki level Rp14.595 dan Rp14.665"
Ilustrasi (KLIKPOSITIF/Ocky Anugrah Mahesa)

EKONOMI, KLIKPOSITIF -- Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menunjukkan penguatan di akhir pekan kedua November 2018. Persentase penguatannya mencapai 0,48 persen atau 70 poin.

Tercatat pada Jumat 16 November 2018 lalu, nilai tukar rupiah sudah memasuki level Rp14.595 dan Rp14.665. Angka itu jelas lebih rendah dari beberapa bulan sebelumnya yang mencapai Rp15.000 per dolar AS.

Kendati demikian, Ketua DPR RI Bambang Soesatyo mengingatkan pemerintah dan BI harus tetap waspada. Pasalnya, nilai tukar valuta masih akan fluktuatif.

Hal itu disebabkan karena pasar uang terus dibayang-bayangi oleh rencana bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (Fed), menaikkan suku bunga acuannya, Fed Fun Rate (FFR) hingga tahun 2019 mendatang.

Dalam sebuah pernyataan resmi ia mengatakan, proses penguatan nilai tukar rupiah saat ini tentu tak bisa dilepaskan dari langkah BI menaikkan bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6 persen, belum lama ini.

Namun, proses penguatan rupiah saat ini diasumsikan temporer. Rupiah-dolar AS pada dasarnya belum menemukan keseimbangan baru, terutama karena The Fed masih akan menaikkan bunga acuan ke level 3,25 persen hingga 2019, dari posisi dua persen saat ini.

"Memang, proses penguatan rupiah saat ini berhasil menumbuhkan optimisme berbagai kalangan. Namun, nilai tukar valuta diperkirakan masih akan fluktuatif karena pasar masih terus mengantisipasi langkah-langkah The Fed berikutnya," kata legislator Partai Golkar itu.

Karena itu, sebut dia, pemerintah dan BI pun diharapkan selalu antisipatif menghadapi potensi gejolak nilai tukar di pasar uang. Diyakini, baik BI maupun pemerintah sudah menyiapkan langkah antisipatif guna meminimalisir potensi arus keluar dana asing (Capital outflow).

Namun, jauh lebih penting adalah menyiapkan efektivitas strategi berkomunikasi dengan publik, agar depresiasi rupiah berikutnya ... Baca halaman selanjutnya