Kenaikan Harga Beras Picu Inflasi di Kota Padang

"Kenaikan harga beras menjadi penyumbang inflasi pertama dengan perubahan harga 2,12 persen"
Ilustrasi pedagang beras (Istimewa)

EKONOMI, KLIKPOSITIF -- Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat mencatat, sepanjang bulan November 2018, Kota Padang mengalami inflasi sebesar 0,19 persen.

Menurut analisa BPS, inflasi di ibukota Provinsi Sumatera Barat itu disebabkan karena tingginya pengeluaran masyarakat di sektor bahan makanan yang mencapai 0,59 persen.

Hal itu didasari oleh perkembangan harga berbagai komoditas pada bulan November 2018 secara umum berfluktuasi.

Berdasarkan data sesui dengan kelompok pengeluaran, ada beberapa kenaikan harga yang diantaranya adalah pada kelompok pengeluaran bahan makanan sebesar 0,59 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,15 persen.

Kemudian juga kelompok sandang sebesar 0,07 persen, dan kelompok kesehatan sebesar 0,27 persen.

Sedangkan kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau, dan kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga mengalami deflasi masing-masing sebesar 0,01 persen.

Sementara untuk kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan tidak mengalami perubahan.

Jika lebih dirinci, di sektor kelompok pengeluran masyarakat untuk bahan makanan, kenaikan harga beras menjadi penyumbang inflasi pertama dengan perubahan harga 2,12 persen dan 0,1158 persen kontribusi terhadap inflasi.

Di posisi kedua dipengaruhi oleh kenaikan harga bawang dengan persentase perubahan harga 5,00 persen dengan kontribusi 0,0482 persen terhadap laju inflasi.

Lalu di peringkat ketiga, inflasi Kota Padang juga dipengaruhi oleh kenaikan tarif pulsa telepon genggam, yang mana kenaikan harganya mencapai 1,90 persen dengan kontribusi 0,0386 terhadap laju inflasi.

Dengan data demikian, BPS menyimpulkan bahwa laju inflasi tahun kalender Kota Padang sampai November 2018 adalah sebesar 2,38 persen.

Laju inflasi year on year (November 2018 terhadap November 2017) adalah sebesar 3,12 persen.(*)