Selain Padang, Kenaikan Harga Beras Juga Picu Inflasi di Bukittinggi

"Angka tersebut lebih tinggi dari Kota Padang yang hanya 0,19 persen"
Ilustrasi distribusi beras dari Bulog (KLIKPOSITIF/Joni Abdul Kasir)

EKONOMI, KLIKPOSITIF -- Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat mencatat, sepanjang bulan November 2018, Kota Bukittinggi mengalami inflasi sebesar 0,83 persen.

Angka tersebut lebih tinggi dari Kota Padang yang hanya 0,19 persen. Menurut catatan, inflasi di kota wisata itu disebabkan karena adanya adanya peningkatan indeks pada semua kelompok pengeluaran.

Berdasarkan data yang dirilis BPS, kelompok pengeluaran masyarakat yang tertinggi terjadi pada kelompok pengeluaran perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 1,74 persen.

Sesuai dengan data itu pula dilaporkan bahwa kelompok pengeluran yang mengalami kenaikan adalah kelompok bahan makan sebesar 1,21 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,37 persen.

Kemudian disusul oleh kelompok sandang sebesar 0,08 persen; kelompok kesehatan sebesar 0,32 persen, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 0,45 persen, serta kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,25 persen.

Baca Juga: Kenaikan Harga Beras Picu Inflasi di Kota Padang

Jika lebih dirinci, komoditas yang menjadi penyumbang laju inflasi di kota itu adalah biaya sewa rumah, beras dan tarif pulsa seluler.

Sepanjang November 2018, tarif sewa rumah di Bukittinggi naik 6,67 persen dengan kontribusi 0,3041 persen terhadap laju inflasi.

Di posisi kedua, harga beras dengan persentase perubahan mencapai 4,76 persen berkontribusi 0,2660 persen terhadap laju inflasi.

Lalu di posisi ketiga diikuti oleh bawang merah dengan perubahan harga mencapai 21,86 persen dengan kontribusi 0,1287 persen terhadap laju inflasi.

Dengan data itu, BPS kemudian menyimpulkan bahwa laju Inflasi tahun kalender sampai bulan November 2018 sebesar 2,57 persen dan laju inflasi year on year (November 2018 terhadap ... Baca halaman selanjutnya