Temui DPR, Peternak Ayam Petelur Sebut Sulit Dapat Pakan Jagung

"Ini menjadi masalah karena pelaku usaha dari sektor peternakan ini adalah rakyat, oleh sebab itu pemerintah harus serius untuk memberikan jaminan ketersediaan jagung sehingga bisa diserap"
Ilustrasi (Net)

KLIKPOSITIF -- Peternak ayam Petelur mengadu sulitnya mendapatkan pakan ternak kepada Pimpinan DPR. Padahal pemerintah mengklaim produksi jagung nasional surplus, namun faktanya harga jagung masih tinggi dan langka dipasaran.

"Ini menjadi masalah karena pelaku usaha dari sektor peternakan ini adalah rakyat, oleh sebab itu pemerintah harus serius untuk memberikan jaminan ketersediaan jagung sehingga bisa diserap," ujar Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon didampingi Anggota Komisi IV Endro Hermono, saat menerima aspirasi pelaku usaha peternakan ayam petelur, di Nusantara III DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (22/1/2019).

Menurut Fadli, Masalah kebutuhan jagung yang tidak terpenuhi menjadikan usaha peternakan tidak menguntungkan, karena tidak masuk dalam kos produksi. Mereka, terang Fadli, merasa dianaktirikan oleh pemerintah karena disisi lain para petani mendapat subsidi pupuk namun peternak tidak mendapat perhatian.

"Apa yang disampaikan tadi sah ya, memang benar, padahal kalau kita berbicara swasembada protein maka peternak ini yang paling terdepan. Karena memproduksi protein dengan harga yang paling terjangkau oleh masyarakat yang paling bawah sekalipun, yaitu telur," jelas Fadli.

Watua Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan ini mengatakan, yang paling diharapkan sekarang adalah ketersediaan pakan berupa jagung, dengan harga yang terjangkau, itu saja sudah sangat membantu. Apalagi kalau ada subsidi bantuan lainnya, seperti teknologi, mungkin kandangnya atau intensifikasinya, tentunya akan jauh membantu bagi mereka para peternak.

"Karena itu DPR termasuk juga Komisi IV, dengan pak Endro akan memperjuangkan aspirasi ini, dan kita berharap pemerintah secara serius menanggapi apa yang menjadi keinginan dari rekan-rekan para peternak," tandas Fadli. (*)