Tertinggi dalam 5 Tahun Terakhir, Penerimaan Pajak Tahun 2018 Tembus 92,41 Persen

"Ada dua hal faktor pendorong pencapaian penerimaan pajak"
Ilustrasi (Net)
memang cukup menggembirakan, umumnya mengalami pertumbuhan double digits.
Pertumbuhan PPh Nonmigas tercatat mencapai 15,1 persen ditopang oleh pertumbuhan PPh Pasal 25/29 Badan dan Orang Pribadi, yang mulai merasakan efek pelaksanaan program Tax Amnesty.

Sementara itu, penurunan persentase penduduk miskin dan tingkat pengangguran masyarakat mendorong pertumbuhan penerimaan PPh Pasal 21.
Pertumbuhan signifikan juga dicatatkan oleh pajak-pajak atas impor yakni PPh Pasal 22 Impor dan PPN Impor, didorong oleh meningkatnya nilai impor Indonesia di tahun 2018.

Ditinjau dari sisi sektoral, sepanjang tahun 2018 ini sektor-sektor usaha utama mampu mempertahankan pertumbuhan penerimaan pajak double digits.

Sektor Industri Pengolahan tumbuh 11,12 persen yoy, Perdagangan tumbuh 23,72 persen yoy, serta Jasa Keuangan dan Asuransi tumbuh 11,91 persen yoy.
Pertambangan tumbuh 51,15 persen yoy, masih dipengaruhi oleh tren kenaikan harga komoditas tambang. Pertanian tumbuh 21,03 persen yoy, sedangkan Konstruksi dan Real Estat masih mampu tumbuh 6,62 persen.

Berkat pertumbuhan penerimaan pajak yang jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi, angka tax ratio Indonesia pun menunjukkan perbaikan, dari sebelumnya pada tahun 2017 di angka 10,7 persen terhadap PDB, di tahun 2018 ini tax ratio meningkat menjadi 11,5 persen.

Secara umum apabila melihat capaian realisasi penerimaan pajak terhadap target APBN, pertumbuhan penerimaan pajak dan tax ratio, pencapaian tahun 2018 menunjukkan trend perbaikan/rebound setelah mengalami perlambatan dalam lima tahun terakhir.(*)