Nurfan dan Nurhidayati yang Tumbuh Bersama KUR Bank Nagari

Toko Istana Kado yang menjual berbagai mainan
Toko Istana Kado yang menjual berbagai mainan (KLIKPOSITIF/Khadijah)

PADANG, KLIKPOSITIF -- Kampus Universitas Islam Indonesia – dulu IAIN – terlihat ramai di siang itu. Di gerbang masuk mahasiswa terlihat datang dan pergi. Beberapa orang di antaranya yang keluar dari kampus, berjalan 50 meter menuju Pondok Ponsel.

Mereka dilayani seorang pria paruh baya, Nurfan Sari, 36 tahun. “Isi pulsa bang,” ujar salah seorang dari mereka. Sebuah buku dan pena yang telah disiapkan di etalase, langsung ditulisi nomor ponsel.

Aktivitas tersebut rutinitas di Pondok Ponsel. Nurfan—begitu akrab disapa—tak hanya menjual isi ulang pulsa, tapi juga menjual handphone (HP) dan accecorisnya. Namun, yang paling utama, pembeda toko ini dengan yang lain, ia bisa melakukan sevice HP.

Baca Juga

“Usaha saya bermula dari sebuah obeng,” ujar Nurfan. Metafora ucapan Nurfan merujuk pada usaha awalnya adalah service HP, yang bermula pada 2000. Saat itu produksi HP belum semassal hari ini, yang menurut data Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencapai jumlah 100 juta orang tahun 2018. Indonesia menjadi negara pengguna HP keempat terbanyak setelah Cina, India, dan Amerika.

Dulu—sebelum HP semassal hari ini—usaha yang berkembang adalah Warung Telekomunikasi (Wartel). Nurfan bekerja di salah satu Wartel di Lubuk Begalung. Ia mengaku gajinya tidak seberapa saat itu. Meski demikian, ia mendapatkan ilmu bekerja selama lima tahun (2000-2005). Ketika ada telpon yang rusak, ia mencoba memperbaiki sendiri.

Ilmu itulah yang menopang hidupnya kelak. Pada 2005, ia memberanikan membuka usaha sendiri, yaitu membuka usaha service HP di Sarang Gagak, tak jauh dari kampus UIN. Pilihannya membuka usaha di sana dengan market mahasiswa.

Usaha yang dibuka lulusan SMK Perhotelan ini berbuah hasil. Dua tahun kemudian, ia menyewa tempat usaha yang lebih besar. Lokasinya masih di dekat kampus UIN, tepatnya di Jalan Muhammad Yunus, dengan harga sewa lebih tinggi.

Di toko yang baru, usahanya tidak hanya lagi service HP. Ia mulai menjual handphone. “Namun, masih dalam jumlah terbatas. Disesuaikan dengan modal,” ujarnya. Pada 2009, atau dua tahun kemudian, ia memberanikan diri meminjam ke Bank Nagari untuk memperluas usaha.

Ia meminjam melalui Kredit Usaha Rakyat ( KUR ) Bank Nagari dengan nominal Rp20 juta. Pinjamannya disetujui. Hasil pinjaman ini dipergunakan untuk manambah kuantitas HP yang akan dijual.

Setelah lunas, ia mengajukan lagi pinjaman Rp30 juta. Pinjaman kedua juga dikabulkan. “Saya tidak pernah telat membayar. Barangkali itu yang membuat pinjaman kedua disetujui lagi,” ujarnya. Hasil pinjaman kedua ini juga dipergunakan untuk menambah kuantitas barang.

Pada 2018, Nurfan mengajukan lagi pinjaman dengan nominal yang cukup besar, Rp250 juta. Menurutnya, pinjaman sebesar ini dipergunakan untuk membeli barang langsung ke Hongkong. Pilihannya ke Hongkong, harga HP di sana jauh lebih murah sehingga bisa menghasilkan keuntungan lebih tinggi.

Pinjaman pun disetujui. Nurfan langsung terbang ke Hongkong untuk membeli barang. Namun, sebutnya, untuk jangka panjang, tidak mungkin ia bolak-balik ke Hongkong. Nurfan kemudian menjalin kerjasama dengan PT Importir Indonesia selama tiga tahun. Perusahaan perannya sebagai suplay, dengan harga barang yang sama saat ia membeli barang di Hongkong.

Jika Anda melewati kampus UIN hari ini, usaha Nurfan tidak lagi hanya menjual HP secara eceran. Usahanya telah berkembang menjadi grosir –penyuplai barang – ke toko-toko. Omsetnya mencapai Rp150 juta per bulan.

Usaha yang dibangun Nurfan, yang berkembang berkat pinjaman KUR Bank Nagari , juga dirasakan Nurhidayati. Nurhidayati bersama suami, Sofyan, memiliki usaha dengan merek Istana Kado.

Istana Kado menjual produk seperti mainan anak-anak, accecoris, pakaian anak-anak, boneka, dompet, ikat pinggang, kaos kaki, dan sebagainya. Nur—begitu disapa—menyebut usahanya menjual barang-barang yang bisa dijadikan untuk kado, terutama untuk anak-anak yang ulang tahun.

Nur memulai usaha pada 2002. Ketika itu ia menyewa kedai kecil di samping Kantor Pos Pusat, tak jauh dari Pasar Raya. Namun, hanya bertahan dua tahun. Pada 2004, ia pindah ke Bandar Buat hingga sekarang.

Pilihannya menyewa kedai di Bandar Buat—tepatnya di Pasar Bandar Buat—karena lebih ramai. Di samping Kantor Pos, kedainya terpencil dan tak banyak dilewati orang. Lokasi di sana di dekat gang sempit, jalan tembus ke Pasar Raya.

Alasan kedua pindah ke Bandar Buat karena lebih dekat dengan rumah. Ia tidak perlu lagi jauh datang ke Kantor Pos dan tentunya lebih aman. Lebih mudah diawasi.

Menurut Nur, saat pindah ke Bandar Buat, usahanya masih belum selengkap sekarang. Sementara, sebutnya, kunci menjual mainan anak-anak adalah lengkap dan serba ada. Sementara ia belum memiliki uang untuk menambah barang karena habis untuk biaya pindah kedai.

Nur berusaha mencari pinjaman uang untuk memperluas usaha. Namun, tak mudah rupanya mencari pinjaman. Ia sudah bolak-balik meminjam uang ke kenalan, saudara, dan sebagainya, tapi tak berbuah hasil.

KUR Bank Nagari diketahuinya dari seorang teman. Pada 2010, ia mengajukan pinjaman. “Ternyata prosesnya tidak rumit. Pinjaman saya disetujui senilai Rp10 juta,” ujarnya sumringah. Pinjaman tersebut dimanfaatkan untuk menambah barang.

Menurut Nur, usaha mainan anak-anak ini, penjualnya banyak. Ia harus bersaing dengan penjual serupa. Di Bandar Buat saja, tak kurang ada empat sampai lima usaha serupa. Persaingan harga menjadi kunci dari keberhasilan usaha ini.

Nur membeli barang ke grosiran di Pasar Raya dan Bukittinggi. Logikanya, ia harus menjual barang dengan harga lebih tinggi. Resikonya, pembeli akan memilih belanja di Pasar Raya dibanding tokonya, dengan jenis barang yang sama.

Makanya, pada 2018, ia memberanikan diri meminjam KUR ke Bank Nagari dengan nominal yang jauh lebih besar yaitu Rp200 juta. Rencananya, pinjaman tersebut dimanfaatkan untuk membeli barang langsung ke grosiran di Jakarta.

“Alhamdulillah, pinjaman dikabulkan,” ujarnya. Kini, Nur telah memiliki dua toko. Omsetnya sekarang bisa Rp3 juta per hari. Dulu, sebutnya, omsetnya tak lebih dari Rp1 juta per harinya. Ia juga telah mempekerjakan dua orang berkat perkembangan usaha itu.

Nur memilih menjual mainan anak-anak karena berkaca dari usaha serupa saudaranya di Lampung. Menurut saudaranya, mainan anak-anak sudah seperti kebutuhan harian. Selalu dibutuhkan.

Nur dan Nurfan merupakan dua orang yang berhasil mengembangkan usaha berkat pinjaman KUR Bank Nagari . Mereka terbantu karena pinjaman tersebut membuat usahanya bertumbuh seperti sekarang.

Catatan Bank Nagari , penyaluran KUR untuk masyarakat Sumbar terus bertambah dalam jangka waktu dua tahun terakhir. Pada 2017, alokasi penyaluran KUR Bank Nagari sebesar Rp300 miliar.

“Tahun 2018, plafon KUR Bank Nagari sebesar Rp1,1 trilun,” ujar Direktur Utama Bank Nagari , Dedy Ihsan. Menurutnya, KUR sebagian besar disalurkan di bidang pertanian, perdagangan, perkebunan, dan perikanan. Dedy mengatakan penyaluran KUR akan mendongrak pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sumbar, Darwisman, mendorong perbankan panyalur KUR memaksimalkan penyaluran guna mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah tersebut. Sebab, menurut Darwisman, dari 560.000 UMKM di Sumbar, sebagian besar belum tersentuh akses permodalan.

Pakar Keuangan dari Universitas Andalas (Unand), Efa Yonnedi, mengatakan, KUR sangat membantu UMKM karena bunganya yang rendah. Ini harus bisa dimanfaatkan oleh UMKM untuk menumbuhkan usaha.

Menurutnya, tidak sulit bagi pelaku usaha untuk mengakses modal, baik dari perbankan, lembaga keuangan, maupun pinjaman lunak lembaga atau instansi pemerintah.

Asalkan, imbuhnya, usaha yang dimiliki mempunyai prospek bisnis yang bagus, dan tentu saja pengelolaan keuangannya tertata dengan baik. “Bank misalnya, mereka akan lihat pembukuan usaha ini. Kalau dianggap layak, gampang sekali dapat pinjaman,” kata Mantan Komisaris Utama Bank Nagari itu.

Selain aspek produksi dengan menjamin kualitas produk yang dihasilkan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) memang bagus, kemudian aspek pemasaran, juga perlu diperhatikan aspek keuangannya untuk memastikan modal yang dimiliki mencukupi untuk pengembangan.

Dia mengakui seringkali pelaku usaha mengeluhkan kurangnya modal dalam mengembangkan bisnis, sehingga usaha menjadi terhambat.

Namun, perlu diingat, bahwa modal hanyalah salah satu faktor pendukung untuk mempercepat pengembangan usaha. Kalau pun punya modal besar, namun tidak memiliki perencanaan keuangan dengan baik, belum tentu juga usahanya akan berkembang.

Makanya, kata Efa, penting bagi pelaku usaha untuk membuat pembukuan dan perencanaan keuangan. Kalau itu sudah terpenuhi, mengakses modal dari mana saja akan gampang, karena nilai bisnis usaha bisa diukur dari pembukuannya.

[Khadijah]

Baca Juga

Penulis: Pundi F Akbar