Menengok Produksi Kayu Manis Ekspor dari Padang Pariaman yang Butuh Perhatian Semua Pihak

Jon (33) salah seorang pengepul Kulit Kayu Manis saat ditemui di Kios Sumber Mata Air,  miliknya,  Kamis 25 April 2019.
Jon (33) salah seorang pengepul Kulit Kayu Manis saat ditemui di Kios Sumber Mata Air, miliknya, Kamis 25 April 2019. (KLIKPOSITIF/ Rahesa)

PADANGPARIAMAN, KLIKPOSITIF -- Menengok ekspor kulit kayu manis di kawasan teluk bayur yang jumlah laju ekspor mencapai 90 persen, ternyata salah satu asal komoditi tersebut adalah dari Padang Pariaman.

Seperti yang KLIKPOSITIF pantau di Daerah Lambeh, Aur Malintang dan Sungai Geringgiang, Kabupaten Padang Pariaman.

Sebagai wilayah penghasil Kayu Manis (Cassiavera) yang berkontibusi di kancah dunia, produksi Kayu Manis petani di Lambeh cukup besar, satu hari bisa mencapai puluhan ton dari hasil beberapa pengepul.

Baca Juga

Namun, pembudidayaan Kayu Manis semakin hari semakin sedikit. Tambah berkurang saja lahan Kayu Manis di daerah itu.

Dilain sisi, berdasarkan data dari 5 orang pengepul Kayu Manis di kawasan Padang Pariaman, harga kayu manis terus meningkat setiap tahunnya.
Diketahui pada 2016 Kayu Manis Rp24.000 per kilogram dan 2017 mencapai Rp32.000 per kilogram. Sekarang harga Kayu Manis mencapai Rp45.000 hingga Rp50.000 per kilogram.

Salah satu pengepul Kayu Manis di Lambeh bernama Jon (32 tahun), saat ditemui di Kios Sumber Mata Air miliknya, Kamis 25 April 2019, mengatakan kalau permintaan dari luar negeri cukup tinggi, sedangkan produksi tidak ada peningkatan yang signifikan.

"Pada akhir 2018, katanya lagi, harga Kulit Kayu Manis menembus Rp40.000 per kilogram, harga tersebut ditingkat pedagang pengumpul. sedangkan harga dari masyarakat yang berkebun rata-rata dikurangi sekitar Rp4.000 per kilogram dari harga tersebut," jelasnya.

Sekarang, kata Jon, saya membeli dari petani seharga Rp50.000 per kilogram jenis Doble Stik. Untuk saat ini, sulit mendapatkan Kulit Kayu Manis dari Petani. Selain lahan yang semakin hari semakin berkurang, cuaca juga sangat berpengaruh. Hujan setiap hari menyulitkan petani untuk menjemur Kulit Kayu Manis pasca penjualan.

"Saat ini, kami membutuhkan terobosan-terobosan dari pemerintah agar produksi kayu manis kembali meningkat, seperti bantuan bibit dan juga bimbingan teknis yang memberi pemahaman kepada petani supaya lebih termotivasi," jelas Jon.

Selain itu, sebutnya, diperlukan penelitian oleh universitas maupun lembaga peneliti profesional lainnya untuk menemukan bibit unggul kayu manis. "Selama ini belum ada penelitian yang mengembangkan bibit kayu manis ini," sebutnya.

"Harapan dan tujuan jelas dari adanya penelitian itu, paling tidak penelitian bisa menghasilkan varietas unggul seperti kulit kayu manis lebih tebal, atau aromanya lebih harum, maka nilai jual juga semakin tinggi," jelas Jon.

Selama menjalani pekerjaan berdagang rempah-rempah, Jon mengatakan, banyak masyarakat yang mampu mengenyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi dengan penghasilan kulit manis ini. "Itu yang saya perhatikan saat membeli Kulit Kayu Manis dari petani," katanya.

"Oleh sebab itu dibutuhkan gerakan daerah untuk tetap memperhatikan produktivitas Kulit Kayu Manis ini, karena akan selalu dibutuhkan baik tingkat nasional maupun ekspor," jelas Jon.

Secara umum diketahui manfaat Kulit Kayu Manis seperti mengontrol gula darah karena mengandung antioksidan, anti infeksi, meningkatkan fungsi otak, mengontrol gula darah, menurunkan kolesterol, mencegah pertumbuhan sel kanker, menghangatkan tubuh, dan mencegah penggumpalan darah.

Namun pengamatan KLIKOOSITIF di Kawasan Tanaman Kayu Manis di Padang Pariaman semakin hari semakin berkurang. Tak hanya itu, salah seorang petani Kayu Manis di kawasan itu mengakui perihal itu.

Nazir namanya, petani Kayu Manis yang mempunyai ratusan batang tanaman Kayu Manis di kebunya. Dikatakannya, selama ini cara pengolahan dan cara pemeliharaan Kayu Manis miliknya dilakukan secara tradisional.

"Pengolahan dan pemeliharaan Kayu Manis saya pelajari sejak kecil dari orang tua. Tak ada cara baru yang saya ketahui, " kata Kepala Keluarga yang berusia 44 tahun itu.

Bantuan bibit ada, kata Nazir, yang diberikan Pemerintah, namun cara pengolahan dan pemeliharaan tidak ada dari pemerintah.

"Selain itu banyak berkurang sekarang produksi Kulit Kayu Manis. Ya penyebabnya penyakit Kulit Kayu Manis, tiba-tiba saja Kulit Kayu melekat dan ada bercak hitam. Untuk harga sekarang sudah naik, namun hasil dari panen semakin berkurang, " ungkap Nazir. (rhs)

Penulis: Eko Fajri