Selama Ramadan, Penjualan Peci di Tempat Ini Meningkat 100 Persen

"Satu peci dibanderol seharga 70 hingga 100 ribu rupiah"
Nasril, pemilik Peci Nasional Mahkota (KLIKPOSITIF/Rehasa)

PARIAMAN KLIKPOSITIF -- Bulan Ramadan membawa berkah bagi penjualan produk peci nasional. Pasalnya banyak orang membeli peci untuk digunakan beribadah setiap harinya di bulan puasa. Beberapa perajin peci mengatakan, setiap puasa pendapatan meningkat 100 persen.

Seperti salah satu usaha pembuatan peci yang bernama Peci Nasional Cap Mahkota di Jalan Saman Hudi, Sungai Pasak, Pariaman. Usaha peci ini adalah milik Nasril yang didirikan pada tahun 1998.

Nasril mengatakan, selain telah mempunyai izin tempat usaha, No 069/HO/KP2TPM-2013 produk pecinya terkenal dengan kualitas kain bludu yang tahan air.

"Yang kami andalkan dari produk peci adalah ketahanan bahan. Peci Mahkota tahan air, bahan baku pesan dari korea," kata Nasril, Kamis 16 Mei 2019.

Dikatakannya juga, produk peci miliknya tak hanya di jual oleh pedagang pada kawasan Kota dan Kabupaten Pariaman saja.

"Bahkan di luar Kota juga banyak yang mesan. Selain itu saya juga mengirim pesanan peci dari luar provinsi seperti Pekanbaru, Batam, Palembang, Tanjung Pinang dan Bengkulu," jelasnya.

Setiap hari Nasril bersama tiga orang pekerjanya bisa memproduksi 30 peci. Satu peci dibanderol seharga 70 hingga 100 ribu rupiah.

Untuk saat ini, kata Nasril, khusus di bulan puasa usahanya meningkat hingga 100 persen. "Iya, ada peningkatan 100 persen. Namun saat ini kami tidak mengopor produk ke luar, hanya pembeli yang datang ke sini," ungkapnya.

Nasril menyebutkan, di tempatnya bekerja, peci dibuat dengan tiga bentuk variasi yaitu model lengkung, bulat dan kotak.

Sementara itu untuk kendala dalam produksi peci Nasril mengatakan bahwa saat ini kendala yang paling berpengaruh yaitu upah kirim untuk ke luar daerah atau provinsi sangat mahal.

"Saat ini upah kirim sangat mahal ini sangat menjadi kendala. Bahkan saya harus menolak pesanan barang dari Pulau Jawa, walaupun permintaan mereka hingga berkodi-kodi," ... Baca halaman selanjutnya