Melirik Sulaman Kepala Peniti, Khas Pariaman

Eka, pengrajin sulaman
Eka, pengrajin sulaman (KLIKPOSITIF/Rehasa)

PADANGPARIAMAN KLIKPOSITIF -- Di Padang Pariaman , beberapa warga masih mempunyai keahlian menyulam dengan teknik sulaman kepala peniti khas Pariaman. Keahlian tersebut didapati dari warisan turun temurun. Berbagai karya yang dihargai dengan jutaan tersebut dibuat dari tangan-tangan telaten Ibu Rumah Tangga (IRT).

Tak heran jika satu karya sulaman dibanderol seharga jutaan Rupiah, pasalnya proses pembuatan sulaman tersebut memakan waktu penyelesaian paling cepat satu bulan dan teknik pengerjaannya terbilang sulit.

baca juga: Pemkab Padang Pariaman akan Selidiki Penyebab Ambruknya Jembatan Sikabu-Lubuak Aluang

Pantauan KLIKPOSITIF di kawasan Pasir Baru, Sungai Limau, Kecamatan Padang Pariaman , masih banyak IRT terlihat menyulam. Mereka tampak tekun membuat karya sulaman di teras-teras rumah.

Salah satu IRT yang ditemui di kawasan tersebut bernama Eka (38) mengaku telah melakoni pekerjaan menyulam selama 20 tahun. Ia mengutarakan, pembuatan sulaman yang harus dilakukan secara apik dan penuh kesabaran.

baca juga: Jembatan Ambruk, Ini Kata BPBD Padang Pariaman

"Iya, kalau ini sudah 20 tahun saya lakukan, awalnya terasa sulit, sebab menyulam seperti ini butuh kecakapan dan teknik tersendiri," kata Eka saat menyulam di teras rumahnya, Jumat 24 Mei 2019.

Disebutkannya, sulaman yang ia kerjakan merupakan teknik sulaman khas Pariaman. "Teknik sulaman ini diwariskan secara turun temurun dari nenek moyang. Saya dulu sewaktu remaja mempelajari dari nenek, " sebutnya.

baca juga: Jembatan Sikabu Padang Pariaman Ambruk, Seorang Pekerja Meninggal dan 4 Lainnya Dilarikan ke Rumah Sakit

Eka juga katakan, teknik sulaman kepala peniti banyak membawa daya tarik bagi orang lain, baik akademisi maupun warga luar daerah tersebut banyak belajar ke daerahnya. "Mereka tertarik dengan bentuk sulaman peniti. Motif sulaman yang unik dan cantik jadi daya tarik tersendiri," jelasnya.

Saat itu terlihat, Eka menyulam kepala peniti yang diaplikasikannya di atas selendang.

"Ini teknik Sulaman Kepala Peniti yang saya buat di atas selendang. Selendang ini untuk upacara Baralek, dijual seharga Rp800 ribu hingga Rp900 ribu. Selain selendang, saya juga buat di atas kain kaftan dan gamis, hasilnya dijual seharga satu juta lebih, " ungkap Eka.

Dikatakannya juga, setiap harinya ia menyulam rata-rata selama 6 jam. 3 jam pagi hari dan 3 jam menjelang berbuka puasa.

baca juga: Warga Padang Sago Galang Dana untuk Pengobatan Juni Arita

Eka juga menunjukan hasil karya sulamannya seraya menjelaskan perbedaan corak dan teknik dalan satu selendang.

"Ini Sulam Datar, hasil sulaman rata dengan permukaan kain. Kalau yang ini Sulam terawang, hasil sulaman berlubang-lubang seperti menerawang. Dan ini Sulam timbul, hasil sulaman membentuk tekstur di permukaan kain sesuai motif yang dibuat," jelas Eka sembari memperlihatkan.

Terkait semua itu, Eka mengemukakan pendapatnya perihal menyulam. Dia merasakan manfaat dari membuat sulaman yaitu kegiatan pengisi waktu luang dan penghilang stres dari rutinitas pekerjaan sehari-hari. Namun tidak hanya sekedar itu saja, Eka mengatakan, ia menyulam karena kecintaannya terhadap kegiatan tersebut.

"Jika tidak merasakan senang atau rasa mencintai terhadap karya, belum tentu hasil dapat selesai dengan baik," sebut Eka.

Menurutnya, Perempuan Minang diharuskan memiliki keterampilan menyulam. Dan itu bisa diajarkan sejak anak-anak sebagai bekal keterampilan di masa datang.

"Meskipun dikerjakan dengan teknik yang tidak mudah, menyulam tidak menjadi beban bagi saya," sebutnya.

[Rehasa]

Penulis: Iwan R