Melirik Sulaman Kepala Peniti, Khas Pariaman

"Keahlian tersebut didapati dari warisan turun temurun"
Eka, pengrajin sulaman (KLIKPOSITIF/Rehasa)
gamis, hasilnya dijual seharga satu juta lebih, " ungkap Eka.

Dikatakannya juga, setiap harinya ia menyulam rata-rata selama 6 jam. 3 jam pagi hari dan 3 jam menjelang berbuka puasa.

Eka juga menunjukan hasil karya sulamannya seraya menjelaskan perbedaan corak dan teknik dalan satu selendang.

"Ini Sulam Datar, hasil sulaman rata dengan permukaan kain. Kalau yang ini Sulam terawang, hasil sulaman berlubang-lubang seperti menerawang. Dan ini Sulam timbul, hasil sulaman membentuk tekstur di permukaan kain sesuai motif yang dibuat," jelas Eka sembari memperlihatkan.

Terkait semua itu, Eka mengemukakan pendapatnya perihal menyulam. Dia merasakan manfaat dari membuat sulaman yaitu kegiatan pengisi waktu luang dan penghilang stres dari rutinitas pekerjaan sehari-hari. Namun tidak hanya sekedar itu saja, Eka mengatakan, ia menyulam karena kecintaannya terhadap kegiatan tersebut.

"Jika tidak merasakan senang atau rasa mencintai terhadap karya, belum tentu hasil dapat selesai dengan baik," sebut Eka.

Menurutnya, Perempuan Minang diharuskan memiliki keterampilan menyulam. Dan itu bisa diajarkan sejak anak-anak sebagai bekal keterampilan di masa datang.

"Meskipun dikerjakan dengan teknik yang tidak mudah, menyulam tidak menjadi beban bagi saya," sebutnya.

[Rehasa]