Mau Bikin Bisnis Fashion Online Kamu Jadi Tampak Elegen? Begini Caranya

Ilustrasi
Ilustrasi (Net)

BISNIS, KLIKPOSITIF -- Revolusi Industri 4.0 telah melahirkan banyak konsep bisnis baru di era Milenial. Seiring dengan bertumbuhnya pengguna internet, penggunaan platform media sosial jadi salah satu lahan basah pengusaha di era Revolusi Industri 4.0 ini.

Penggunaan media sosial untuk berbisnis ini mulai menjamur sejak 2013 lalu. Mode bisnis seperti kemudian diaminkan oleh Anggota DPRD Kota Solok, Herdiyulis. Ia mengatakan adanya media online dan media sosial semacam facebook, Whatapps, instagram dan lainnya sangat potensial dimanfaatkan sebagai sarana promosi. Memanfaatkan kemajuan teknologi untuk pengembangan usaha.

"Nyaris seluruh masyarakat kita adalah pengguna dan pemanfaat media sosial, ini kesempatan untuk memperkenalkan produk yang kita hasilkan langsung ke tangan masyarakat," katanya pada KLIKPOSITIF beberapa waktu yang lalu.

Baca Juga

Namun dari sekian banyak pelaku bisnis, ada yang berhasil menikmati manisnya buah Revolusi Industri 4.0, dan ada pula yang kurang beruntung.

Ternyata, membangun bisnis lewat media sosial sesuai dengan keinginan buyer dunia maya itu tidak mudah. Pengamat ekonomi, Elfindri menyebutkan, untuk bisa bertahan di era Milenial ini, pebisnis harus terus berinovasi, kegagalan dalam bisnis saat ini sebutnya salah satu penyebabnya adalah inovasi itu sendiri.

"Jika pengusaha tidak berinovasi, bisnisnya tidak akan tumbuh. Inovasi bisa dilakukan dalam berbagai bentuk, bisa dengan memperbaiki kemasan, bisa apa saja untuk membikin pembeli lebih tertarik," jelas akademisi Universitas Andalas itu.

Lantas terkait dengan itu, StartupKITO dan DILo Padang menggelar semacam seminar yang berkaitan dengan inovasi dalam bisnis di media sosial-sebagai wadah penunjang bisnis di era Milenial pada 11 Juni 2019 lalu.

Dalam seminar itu, StartupKITO membahas Pentingnya Endorsement dan Fotografi dalam Bisnis Fashion di media sosial. Kenapa hanya fashion? Sebab saat ini, konten fashion lebih dominan menggunakan media sosial untuk memperkenalkan produknya.

Selain lebih efektif, menggunakan media sosial mampu membangun interaksi langsung antara penjual dengan pembeli dalam satu waktu.

Menurut Creator Dircetor salah satu perusahaan garmen khusus wanita, This Is April, Sri Wahyuni Tanjung seiring berjalan perkembanhan tren fashion dan platform media sosial, perusahaan dituntut untuk harus pintar dalam memilih endorser ataupun brand ambassador untuk kemajuan bisnisnya.

Nah, untuk mendukung hal itu, perempuan yang akrab dipanggil Ayu itu menyebutkan bahwa fotografi menjadi salah satu poin penting dalam sisi pengemasan produk yang dipajang di platform media sosial.

Selama seminar, Ayu menjelaskan beberapa tips agar bisnis fashion di dunia maya bisa terlihat elegan dan menarik minat warganet:

1. Menggunakan model luar negri karena harga jasanya lebih kompetitif.

Hal ini menurutnya, akan mampu membangun kepercayaan publik akan produk yang dipasarkan.

2. Merapikan kualitas dan susunan foto untuk ditayangkan di sosmed dan website.

Khusus pada poin ini, pelaku usaha fashion di jejaring media sosial sangat dilarang untuk memajang gambar produk dengan skema sembarangan. Selain membuat akun media sosial tampak kurang bagus, hal ini juga bisa mengurangi kepercayaan calon buyer.

3. Perhatikan kualitas foto

Setiap pelaku usaha, wajib menampilkan produk dengan kemasan foto yang menarik. Bagi Ayu, kemasan foto yang menarik itu adalah gambar yang diproduksi sesuai dengan keilmuan fotografi itu sendiri seperti Rule of Third, Colour Palette, Komposisi, Tone, Cahaya, Angle dan lain sebagainya.

Selain dari tiga tips utama tersebut, pelaku bisnis juga dituntut untuk kreatif membangun interaksi dengan warganet. Pasalnya, berbisnis di media sosial bisa menunjang pertumbuhan UMKM dan ekonomi masyarakat.

"Salah satu misi dari kegiatan ini adalah memperkecil gap antara ibukota dengan daerah. Kali ini, kita bekerja sama dengan DILo Padang karena kita memiliki tujuan yang sama untuk mendukung tumbuh dan berkembangnya Startup dan juga UMKM," pungkas salah satu founder StartupKITO, Doni Satria.(*)

Penulis: Ocky Anugrah Mahesa | Editor: -