Bank Dunia Nilai Ekonomi Indonesia Masih Dihantui Beberapa Resiko

Ilustrasi
Ilustrasi (Net)

EKONOMI , KLIKPOSITIF -- Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan mencapai 5,2 persen pada tahun 2017, menurut rilis dari Bank Dunia untuk tahun depan, pertumbuhan ekonomi negara bisa mencapai 5,3 persen. Kendati demikian, persentsae tersebut masih dihalangi beberapa resiko.

Dalam laporan bertajuk Indonesia Economic Quarterly edisi Juni 2017 Bank Dunia menyebut, resiko tersebut berasal dari domestik maupun eksternal Indonesia, salah satunya yakni kebijakan moneter Amerika Serikat. Kebijakan tersebut berkemungkinan membuat volatilitas finansial memberikan risiko penurunan.

baca juga: Bicara Tentang "Penyakit" Korupsi, Ini Kata Menkeu

Selain itu Bank Dunia juga menjelaskan, ketidakpastian kebijakan global dan khususnya ancaman peningkatan proteksionisme internasional terus memberikan risiko penurunan kepada pemulihan perdagangan global. Dalam hal ini resiko geopolitik di kawasan dan global juga harus dicermati.

Persaingan politik cenderung akan semakin intens, membuat reformasi ekonomi yang vital namun tidak populer semakin sulit untuk dilakukan.

baca juga: Tak Banyak Berubah, Emas Batangan Dijual Rp 933 Ribu Per Gram

Sehingga meskipun bank sentral AS Federal Reserve telah mengomunikasikan siklus pengetatan moneternya, namun kenaikan suku bunga acuan Fed Fund Rate (FFR) yang di luar ekspektasi dapat memicu volatilitas pada pasar modal dan finansial.

"Ini dapat memicu risiko arus modal keluar alias capital outflow dari negara-negara emerging markets, termasuk Indonesia. Kalau benar terjadi, maka arus modal keluar tersebut dapat menyebabkan pengetatan kondisi finansial domestik," tulis Bank Dunia dalam laporan tersebut.

baca juga: Produk Halal Jadi Keunggulan Kompetitif UMKM Indonesia di Pasar Internasional

Resiko lain adalah pada volatilitas nilai tukar rupiah, yang dapat memberatkan konsumsi domestik dan investasi.

Adapun resiko domestik yang dipantau Bank Dunia antara lain adalah dampak dari kondisi politik. Pemilu regional akan digelar pada tahun 2018, sementara pemilu legislatif dan presiden pada tahun 2019 mendatang.

baca juga: Investor Tak Lagi Khawatir Covid-19 Varian Omnicron, Harga Minyak Dunia Terus Menguat

Dalam sebuah riset ekonomi , Bank Dunia menunjukkan bahwa ketidakpastian politik juga dapat menurunkan investasi. Ini khususnya terjadi pada investasi asing.(*)

Penulis: Ocky Anugrah Mahesa