Suplai Karet Sejumlah Negara Terganggu Badai La Nina

Proses Produksi Karet
Proses Produksi Karet (Net)

EKONOMI, KLIKPOSITIF -- Konsorsium Karet Internasional (IRCo) memprediksi sepanjang November 2017 hingga Januari tahun depan, produksi karet di sejumlah negara akan terganggu.

Pasalnya pada periode tersebut negara-negara itu sedang dilanda hujan deras yang merupakan dampak dari badai La Nina.

baca juga: Hari Kedua Ramadan, Harga Emas Mulai Naik

Penurunan suplai karet ini diprediksi akan melanda negara-negara produsen seperti Indonesia, Thailand dan Malaysia. Menurut IRCo penurunan terjadi di tengah permintaan akan karet menguat.

Ketua IRCo, Mesah Tarigan mengatakan selain itu faktor La Nina, musim dingin pada kuartal akhir tahun 2017 juga diperkirakan akan mengurangi suplai NR untuk pasar global.

baca juga: Insiden Kapal Evergreen di Terusan Suez, Otoritas Minta Ganti Rugi Rp 13 Triliun Lebih

"Melihat situasi suplai dan permintaan akan NR saat ini, harga yang ada tidaklah menggambarkan pasar," katanya dalam sebuah rilis yang diterima KLIKPOSITIF .

Berdasarkan data IMF pada Oktober 2017, terdapat faktor-faktor kuat yang mendorong permintaan karet (Natural Rubber-NR), seperti laju pertumbuhan PDB pada tahun 2017 yang diperkirakan mampu mencapai 3,6%, dibandingkan dengan laju tahun 2016 sebesar 3,2%.

baca juga: Terimbas Data Impor Cina, Minyak Dunia Bergerak Menguat

Faktor lainnya sebut Mesah adalah meningkatnya jumlah penjualan mobil ke pasar-pasar besar seperti RRC, Uni Eropa dan Jepang dengan laju pertumbuhan masing-masing sebesar 4,8%, 3,7% dan 7,1% dalam kuartal pertama tahun 2017.

Hal itu berbanding pada periode yang sama pada tahun 2016, yang berdampak langsung pada permintaan NR untuk produksi ban.

baca juga: IHSG Hari Ini Bergerak ke Zona Hijau

"Kami juga memperhatikan bahwa keadaan pasar lebih baik untuk komoditas lain, seperti meningkatnya harga minyak mentah dan komoditas lain sebagaimana terlihat jelas pada Indeks Komoditas NYMEX dan GCSI," jelas Mesah.

Sementara itu ia juga mengungkapkan bahwa konsumsi karet di tiga negara itu cenderung mengalami peningkatan seiring dengan pembangunan jalan serta jalan tol.

"Tiga negara tersebut akan mengamati dan mempertimbangkan langkah-langkah untuk meningkatkan harga karet , dengan mempertimbangkan bahwa kebanyakan dari perkebunan karet dikelola oleh perusahaan kecil dan penurunan harga akan berdampak langsung pada penghasilan dan kesejahteraan mereka," paparnya kemudian.

Sebagai informasi, International Rubber Consortium Limited (IRCo) adalah suatu badan usaha yang didirikan dengan kerangka kerja International Tripartite Rubber Council (ITRC) serta dimiliki oleh tiga produsen serta eksportir terbesar karet -Pemerintah Thailand, Republik Indonesia dan Malaysia.(*)

Penulis: Ocky Anugrah Mahesa