Bagaimana Memperlakukan Uang Rupiah Secara Bijak?

(KLIKPOSITIF/FITRIA MARLINA)

JAKARTA, KLIKPOSITIF - Uang rupiah merupakan mata uang satu-satunya yang diakui negara dalam melakukan transaksi di Indonesia. Rupiah merupakan alat pembayaran yang sah di republik ini, baik tunai maupun non tunai.

"Rupiah merupakan simbol. Disana terdapat ciri-ciri kebangsaan, kedaulatan dan alat pembayaran yang sah di Indonesia," kata Kepala Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia, Suhaedi saat menjadi narasumber pada keegiatan pelatihan wartawan Bank Indonesia 2017 di Hotel Sahid Jaya Jakarta, Senin 20 November 2017.

baca juga: Ingin Kuasi Industri Mobil Listrik, Huawei Tanam Modal Rp 14,6 triliun

Rupiah diperoleh dengan kerja keras dan upaya besar, baik perorangan atau kelompok sehingga harus diberi penghargaan. "Ada upaya kerja keras dalam mendapatkan dan memperolehnya jadi mari beri penghargaan yang lebih baik terhadap mata uang itu sendiri," jelasnya.

Uang rupiah yang diedarkan di seluruh wilayah Indonesia senilai Rp600 triliun, sehingga direncanakan dan saat mencetak serta mengedarkan tidak kekurangan. "Sedangkan untuk pengunaan tunai masih dominan dilakukan di Indonesia, yakni 85 persen" jelasnya.

baca juga: Hari Kedua Ramadan, Harga Emas Mulai Naik

Saat ini, BI juga terus melakukan inovasi dengan menghadirkan uang rupiah di seluruh wilayah Indonesia, termasuk di daerah perbatasan. "Kita mengedarkan uang rupiah ke seluruh kantor perwakilan BI yang ada di indonesia, yakni 45 perwakilan serta lebih dari 500 Kabupaten/Kota. Selain itu, kerjasama dengan perbankan juga dilakukan dengan membuka bank pengelola kas titipan, misalnya di Gorontalo dengan menunjuk Bank Mandiri, Merauke, Sorong, dll," tuturnya.

Sehingga dengan adanya komitmen seperti itu, tidak ada daerah yang tidak bisa dijangkau BI. "Ada 107 bank pengelola kas titipan dengan 152 titik ditribusi, sehingga bisa melayani 500 Kabupaten/Kota di indonesia. "Akhir tahun ini, BI akan cover 100 persen Kabupaten/Kota di indonesia, sehingga "Program BI Jangkau" memastikan uang di kas-kas sampai ke semua daerah sehingga uangnya tidak lusuh dan sobek, tapi uang yang layak edar. Hal itu dilakukan dengan bekerjasama bersama Pos, Pegadaian, unit BRI yang ada di daerah," jelasnya.

baca juga: Insiden Kapal Evergreen di Terusan Suez, Otoritas Minta Ganti Rugi Rp 13 Triliun Lebih

Saat ini, BI juga melakukan sosialisasi dengan masyarakat dalam penggunaan uang rupiah, salah satunya dengan membuka money charger dan ATM di pos-pos perbatasan. "Sehingga semua transaksi tetap dilakukan dengan Rupiah, tidak dengan mata uang asing. Saat ini, ada lima Pos Lintas Batas Negara (PLBN) dengan fasilitas money charger dan ATM, diantaranya dua di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan tiga di Kalimantan Barat. Hingga akhir tahun kita targetkan tujuh PLBN," ujarnya.

Sementara itu, salah satu bentuk penghargaan itu bisa dilakukan dengan tidak menggunakan uang palsu dalam transaksi dan membantu mencegah peredarannya.

baca juga: Terimbas Data Impor Cina, Minyak Dunia Bergerak Menguat

"Uang palsu merupakan ancaman bagi kedaulatan negara. Untuk mencegah terjadinya hal itu, kita semua harus memastikan bisa membedakan mana uang asli dan mana uang yang diduga palsu. Caranya dengan melakukan pengenalan ciri-ciri uang rupiah, yakni 3 D; Dilihat, Diraba, dan Diterawang. Selain itu, ada 9 hingga 12 unsur pengamanan pada uang kertas, seperti watermark, benang pengamat,dll. Ini salah satu ciri membedakan uang rupiah asli dan yang palsu karena hal itu merupakan pertahanan pertama dalam mencegah uang palsu," jelasnya.

Dikatakannya, jumlah temuan uang palsu semakin berkurang. Tahun 2015, temuan uang palsu sekitar 22 lembar / 1 juta uang edar. Dan untuk saat ini, temuan uang palsu sekitar 5 lembar/ 1 juta uang edar. "Kasus pemalsuan uang pada umumnya berasal dari pengaduan masyarakat. Dan untuk saat ini, penegakan hukum sudah semakin baik bagi terhadap kasus uang palsu, yakni dengan menerapkan proses peradilan sehingga orang jera dan tidak diikuti yang lain untuk diedarkan," jelasnya.

[Fitria Marlina]

Penulis: Khadijah