OJK: Uang Pasar Modal Kalahkan Kredit Perbankan

Ilustrasi
Ilustrasi (Net)

EKONOMI, KLIKPOSITIF -- Otoritas Jasa Keuangan ( OJK ) mencatat pendanaan dari pasar modal mengalahkan pertumbuhan kucuran kredit perbankan.

Hal ini yang membuat pertumbuhan kredit perbankan tertekan di sepanjang tahun 2017.

baca juga: Pegawai Jadi Tersangka Kasus Suap Bank Bukopin, Ini Kata Deputi OJK

Tercatat penambahan penyaluran kredit perbankan sebesar Rp228 triliun sampai November 2017. Secara persentase, pertumbuhan kredit perbankan per November 2017 hanya tumbuh di angka 7,47 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Sedangkan pendanaan dari pasar modal menembus Rp257,02 triliun. Bahkan, capaian pendanaan dari pasar modal telah melampaui target yang dibidik, yakni Rp217,02 triliun.

baca juga: OJK Sebut Restrukturisasi Kredit Capai Rp740 Triliun

"Ini sejarah baru bahwa pertumbuhan penghimpunan dana di pasar modal lebih dari pertumbuhan kredit perbankan," kata Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso dikutip dari CNN.

Menurut dia, OJK menyambut positif tingginya pendanaan dari pasar modal . Sebab, hal ini sebagai pertanda bahwa instrumen pembiayaan jangka panjang, khususnya bagi proyek infrastruktur sudah semakin beragam.

baca juga: Marak Gagal Bayar, Presiden Diminta Turun Tangan Awasi Industri Keuangan

Sehingga, di satu sisi tidak melulu mengandalkan kredit dari perbankan . Diperkirakan, pertumbuhan dana di pasar modal akan terus meningkat sampai kisaran Rp260 triliun pada tutup tahun nanti.

Namun, di sisi lain, Wimboh turut menyayangkan bila pertumbuhan kredit bank keok. Sebab, bank harus tetap bisa menyalurkan kredit ke sektor dan segmen lain. "Pertumbuhan industri perbankan yang tidak sebagaimana kami harapkan," ujar dia.

baca juga: Miliki Wewenang dalam PEN, OJK Perlu Jaga Objektifitas dan Profesionalitas

Di sisi lain ia menyadari bahwa tahun ini menjadi masa yang tidak mudah bagi industri perbankan untuk unjuk gigi. Sebab, perekonomian yang cukup lesu rupanya langsung membuat bank-bank terpukul dengan meningkatnya rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL).

Hal ini membuat bank perlu menahan diri untuk menyalurkan kreditnya. Di sisi lain, bank harus fokus untuk membenahi kredit yang telah diberikannya ke debitur, melalui restrukturisasi hingga penghapusan buku.

Kendati demikian, karena tutup tahun tinggal menghitung hari, Wimboh berharap, perbankan bisa menggencarkan penyaluran kredit pada tahun depan.

Upaya ini sejalan dengan membaiknya perekonomian dan mulai berakhirnya masa konsolidasi perbankan dalam membenahi kredit .

"Adapun, pada tahun depan, kami memasang target pertumbuhan kredit perbankan di kisaran 10-12 persen (yoy). Sedangkan tahun ini, kami merevisi target ke posisi 8-9 persen saja dari sebelumnya sebesar 11,86 persen berdasarkan Rencana Bisnis Bank (RBB)," jelasnya.

Kendati demikian, Anggota Dewan Komisioner sekaligus Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana berpendapat bahwa, proyeksi itu sebenarnya jauh lebih konservatif dan realistis dibandingkan target yang disampaikan industri.

“Tapi, kalau melihat industri, yang tercermin dalam RBB, itu lebih positif lagi karena mereka targetkan 12,23 persen. Artinya, lebih tinggi dari outlook (prospek) kami,” pungkasnya kemudian.(*)

Penulis: Ocky Anugrah Mahesa