Begini Trik Sri Mulyani untuk Ciptakan Pembangunan yang Lebih Ekonomis

Menteri Keuangan, Sri Mulyani
Menteri Keuangan, Sri Mulyani (Kemenkeu)

EKONOMI, KLIKPOSITIF -- Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati memiliki trik tersendiri untuk menciptakan pembangunan yang memiliki nilai lebih ekonomis. Menurut dia, seluruh stakeholder harus lebih kreatif untuk mewujudkan hal tersebut.

Pasalnya saat ini, APBN 2018 lebih dioptimalkan untuk sektor-sektor yang bersifat sosial seperti pengentasan kemiskinan, pengurangan kesenjangan dan pemerataan ekonomi.

baca juga: Perangi Pandemi Virus Corona, Indonesia Pinjam Rp15,3 triliun ke Australia

" APBN adalah instrumen kita untuk menciptakan suatu proses pembangunan yang berkelanjutan. Dan fungsinya adalah sebagai fungsi untuk bisa melakukan alokasi, distribusi, dan stabilisasi," katanya.

Trik tersebut adalah dengan melibatkan sektor swasta dalam pembangunan . Sebab kata dia, saat kondisi perekonomian negara cenderung stabil, maka APBN fokusnya adalah kepada fungsi alokasi dan fungsi distribusi.

baca juga: Sri Mulyani Sebut UU Cipta Kerja Bakal Perbaiki Ekosistem Investasi

Khusus pada fungsi APBN , efektifitas anggaran perlu dilakukan untuk membuat suatu lingkungan yang bisa memperbaiki dari distribusi dan alokasi.

Keterlibatan sektor swasta sebut dia, bisa menciptakan pembangunan yang lebih inovatif dan tentu memiliki nilai ekonomis.

baca juga: Telan Dana Rp44 Miliar, Gedung Setda Solok Mulai Difungsikan

"Tentunya kita akan terus mencoba mengupayakan agar APBN bisa dfokuskan kepada bidang atau kegiatan di mana tidak ada private sector interest masuk ke situ," jelas dia.

Ia mencontohkan terkait penggunaan APBN secara bijaksana namun tetap mampu membangun proyek-proyek yang diperlukan.

baca juga: Menkeu Tekankan SDM adalah Aset Paling Berharga Suatu Negara

"Kalau hari ini Menteri Perhubungan selalu bertanya dimana anggaran harus dilakukan duluan. Saya selalu dihadapkan pada pilihan LRT (light rail transit) di Palembang, Jakarta sekarang hampir semua kota minta, Medan, Bandung, Surabaya, railways di Sulawesi," papar dia.

"Kita semuanya harus mulai memikirkan yang mana yang memiliki nilai tambah tertinggi dan appetite dari swasta paling rendah, disitulah letak APBN . Tapi kalau jalur itu sudah bagus, gemuk dan pasti banyak purchasing power anda barangkali hanya butuh APBN 10%, 90%-nya bisa swasta," sambung Sri Mulyani kemudian.(*)

Penulis: Ocky Anugrah Mahesa