Sepanjang Februari 2018, Kondisi Sektor Jasa Keuangan Terjaga

Ilustrasi
Ilustrasi (Net)

EKONOMI, KLIKPOSITIF -- Rapat Dewan Komisioner (RDK) Otoritas Jasa Keuangan menilai stabilitas sektor jasa keuangan dan kondisi likuiditas di pasar keuangan Indonesia dalam kondisi terjaga sejalan dengan perkembangan ekonomi global dan nasional.

Perbaikan ekonomi global semakin solid dan merata. Hal ini ditunjukkan kinerja perekonomian Amerika Serikat (AS), Eropa, Jepang dan Tiongkok yang meningkat.

baca juga: Pemerintah Sebut Penyaluran KUR 2020 Capai 58,53 Persen

Perkembangan perekonomian AS yang positif ditunjukkan oleh peningkatan inflasi, upah yang meningkat dan terjaga rendahnya tingkat pengangguran.

Reformasi pajak Trump yang akan meningkatkan defisit fiskal dapat mendorong naiknya pertumbuhan ekonomi sekaligus tekanan inflasi.

baca juga: Ini Langkah Kemenkeu Untuk Mitigasi Risiko Keuangan Negara di Tengah Pandemi Covid-19

Hal ini telah mendorong naiknya ekpektasi pasar atas laju kenaikan Fed Fund Rate yang lebih cepat.

Untuk domestik, indikator makroekonomi bergerak solid. Inflasi Januari 2018 terpantau turun, kinerja eksternal naik sejalan dengan tren global, serta akumulasi cadangan devisa terpantau meningkat.

baca juga: Anggaran Kemenkeu Tahun 2021 Rp 43,3 Triliun

Meskipun demikian, pertumbuhan ekonomi Q4-2017 masih meningkat secara moderat dan perbaikan indikator sektor riil masih terbatas.

Di pasar keuangan domestik, meskipun terdapat net sell nonresiden sebesar Rp9,14 triliun di bulan Februari 2018, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus melanjutkan penguatan.

baca juga: Tahun Depan Dokumen Digital Pakai Materai, Negara Prediksi Bisa Kantongi Rp5 Triliun

Kemudian terhitung pada 23 Februari lalu IHSG secara ytm menguat tipis 0,2%. Sementara, yield SBN tenor jangka pendek, menengah dan panjang masing-masing naik sebesar 4 bps, 28 bps, dan 18 bps.

Hal ini didorong oleh net sell nonresiden di pasar SBN sebesar Rp13 triliun. Sesuai dengan siklus awal tahun, kinerja intermediasi lembaga jasa keuangan pada Januari 2018 masih berada pada level yang moderat.

Kemudian kredit perbankan Januari 2018 tumbuh sebesar 7,40% yoy (Des’17: 8,24% yoy) dan piutang pembiayaan tumbuh sebesar 6,92% yoy (Des’17: 7,05% yoy).

Dari sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) Perbankan tumbuh sebesar 8,36% yoy (Des’17: 9,35% yoy).

Sementara, premi asuransi jiwa dan asuransi umum/reasuransi masing-masing tumbuh sebesar 44,78% yoy (Des’17: 33,43% yoy) dan 22,93% yoy (Des’17: 6.29%).

Sedangkan hingga 27 Februari 2018 penghimpunan dana di pasar modal telah mencapai Rp22 triliun dengan jumlah emiten baru yang tercatat satu perusahaan.

Di tengah perkembangan intermediasi keuangan tersebut, risiko Lembaga Jasa Keuangan (risiko kredit, pasar, dan likuiditas) Januari 2018 berada pada level yang manageable.

Rasio Non-Performing Loan (NPL) gross perbankan tercatat sebesar 2,86% (Des’17: 2,59%) dan rasio Non-Performing Financing (NPF) perusahaan pembiayaan tercatat 2,95% (Des’17: 2,96%).

Ke depan, OJK akan terus memantau dinamika perekonomian global dan dampaknya terhadap likuiditas pasar keuangan dan kinerja sektor jasa keuangan nasional, khususnya laju kenaikan Fed Fund Rate dan tren kenaikan suku bunga di pasar keuangan global.(*)

Penulis: Ocky Anugrah Mahesa