Jagung Jadi Solusi Atasi Lahan Kering yang Tidak Produktif

Ilustrasi
Ilustrasi (Net)

PADANG, KLIKPOSITIF -- Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Sumatera Barat memutar otak untuk memanfaatkan lahan kering akibat kerusakan irigasi.

Lahan kering yang tidak bisa ditanami padi diganti bisa dengan jagung . Bibit yang ditanam adalah varietas phoenix.

baca juga: Kelabui Petugas dengan Surat Nikah Palsu, ASN Ini Tak Berkutik Setelah Tahu Satpol PP Pasbar Datang Bersama Istri

Ketua KTNA Sumatera Barat Oyon Syafei mengatakan alih fungsi lahan bisa menjadi alternatif agar petani tetap menghasilkan dan memangkas stigma dengan tidak hanya bergantung kepada padi.

"Hal semacam ini baru ada di Kota Padang, pertama di Limau Puruik, dan kedua berada di bawah irigasi Koto Tuo dengan luas lahan yang mencapai 50 haktare juga. 10 haktare di Limau Puruik dan sisanya di kawasan irigasi Koto Tuo. Kondisi lahan juga sama, yakni kering karena tidak lagi dialiri air," katanya Selasa, 10 April 2018 di Padang.

baca juga: Andre Rosiade Bantu Istri Sopir Bus yang Terkena Kanker Payudara

Kondisi tersebut dimanfaatkan oleh KTNA dengan mengalih fungsikan lahan sawah menjadi kebun jagung .

Buktinya kini di daerah Limau Puruik itu, telah ada sekira 50 haktare lahan sawah yang kering ditanami jagung , dan yang siap panen hari ini masih mencapai 3,5 haktare.

baca juga: Resmikan Perbaikan Jalan Lareh Sago Halaban Payakumbuh - Sitangkai, Gubernur: Truk Jangan Melebihi Tonase

Ia menyebutkan untuk potensi lahan yang bisa dikelolah menjadi perkebunan jagung yang ada di Kota Padang bisa mencapai 100 haktare. Cuma belum bisa digarap karena ada persoalan kondisi tanah yang tidak mendukung.

Menurutnya KTNA berkeinginan untuk mengajak masyarakat untuk memanfaatkan lahan sawah yang tidak dialiri air untuk dialih fungsikan menjadi lahan perkebunan jagung . Karena, jagung merupakan tanaman yang cepat masa panennya.

baca juga: Perantau Minang Sulbar di Tenda-tenda Pengungsian Berharap Bantuan dari Sumbar

"Kalau jagung bisa panen dua bulan. Dibandingkan kalau bertanam padi, waktu panen bisa mencapai 3-4 bulan. Jadi akan lebih bagus memanfaatkan lahan sawah yang kering, ketimbang dibiarkan ditumbuhi semak belukar," ungkapnya.

Sementara itu, Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno meminta kepada Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan untuk mendorong KTNA supaya bisa membantu masyarakat petani untuk dapat berkontribusi dalam swasembada pangan di Sumatera Barat.

Apalagi kata dia, KTNA berperan aktif dalam memberikan solusi bagi petani, yang selama ini sulit bergerak untuk memanfaatkan lahan yang lama tidur.

Menurut Irwan, KTNA perlu terus menjajal daerah-daerah di Sumtera Barat, untuk melihat langsung lahan yang bisa dikembangkan untuk tanaman pertanian.

Sehingga bisa membantu petani memperoleh penghasilan dan memberikan lapangan pekerjaan bagi masyarakat di pedesaan.

"Kepada petani tidak harus terpaku dengan kondisi lahan yang hanya bisa untuk bertanam padi. Jika lagi sulit dialiri air, coba beralih bertanam jagung . Nanti kalau sudah ada air lagi, maka dicoba bertanam padi kembali," papar Oyon.

Menurutnya, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat sangat mendukung semua pihak untuk mewujudkan Sumatera Barat swasembada pangan.

Kedepan tidak hanya jagung , tapi penambahan luas lahan sawah juga perlu dilakukan. Karena, di Sumatera Barat merupakan lumbungnya padi.

" Jagung juga bagus untuk ditanam, karena sudah ada pihak yang membeli hasil panennya. Sekarang kalau petani ada persoalan dana, bisa dibantu melalui KUR (Kredit Usaha Rakyat). Kalau soal benih bisa dibicarakan ke Dinas Tanaman Pangan," tegasnya kemudian.

[Joni Abdul Kasir]

Penulis: Ocky Anugrah Mahesa