Ketika Pisang Mampu Mengubah Ekonomi Keluarga

Usaha Pisang Sale Upik Mala di Jawi-jawi Guguak Kabupaten Solok
Usaha Pisang Sale Upik Mala di Jawi-jawi Guguak Kabupaten Solok (KLIKPOSITIF)

KLIKPOSITIF - Dunia kuliner dan makanan kering memang tak ada habisnya untuk dicicipi, dinikmati dan dirasakan, kemudian ditulis memang tak ada habisnya. Cemilan kering tentunya menjadi bagian yang tak bisa dipisahkan dari kuliner, termasuk salah satu produk usaha kering dari Kabupaten Solok, Sumatera Barat.

Langkah kaki kami membawa tujuan ke desa Balai Oli, Nagari Jawi-jawi pada Rabu, 25 Juli 2018. Lama perjalanan yang bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua dari Kota Padang kurang lebih satu jam. Saat sampai di lokasi, penulis disambut langsung oleh pemilik kelompok usaha Kerupuk Sale "Uni Mala", Nurdasni.

baca juga: Kasus Covid-19 Melonjak Picu Naiknya Harga Emas Dunia

Saat sampai di lokasi, Etek Nur, sapaan akrabnya langsung memaparkan soal usaha Kerupuk Sale dengan bahan baku dari Pisang. "Usaha kelompok ini berasal dari Pisang sebagai bahan dasarnya. Nah, dalam kelompok ini, kami mengolah pisang menjadi makanan kering dengan nama Pisang Sale," kata perempuan 50 tahun ini.

Awal membuka usaha ini dimulai pada Januari 2011. Hal itu berawal dari himpitan ekonomi yang melanda keluarganya, sehingga ia memulai memutar otak untuk mencari tambahan ekonomi keluarga. "Suami saya saat itu hanya bekerja sebagai buruh bangunan, yang hanya akan bekerja dan mendapat penghasilan lebih ketika proyek ada. Namun saat proyek pembangunan tidak ada, maka kami merasa kesulitan ekonomi keluarga. Menghadapi kondisi seperti itu, akahirnya kami memutar kincie-kincie (otak) bagaimana bisa mendapat penghasilan lebih dan membantu ekonomi keluarga (suami) untuk kebutuhan hidup. Sehingga muncullah ide ini," tuturnya.

baca juga: Transaksi Rabu Ini Rupiah Diprediksi Akan Melemah

"Bahan baku yang banyak disekitar rumah membuat kami berpikir, bagaimana pisang yang hanya dihargai dengan Rp 5 ribu/sisir bisa memberikan hasil lebih dari itu. Sehingga pada saat seperti itu, datanglah pihak dari dinas UMKM Kabupaten memberikan pelatihan soal pengolahan bahan baku pisang menjadi produk yang bisa dijual dengan harga lebih, yakninya pisang salai," jelasnya.

Pada saat itulah, Etek Nur mulai membuka usaha ini. Untuk tahap pertama, Tek Nur memasarkan produknya di warung-warung sekitar rumah dengan harga jualan Rp 1000 per bungkus, dengan ukuran plastik 9x14 inc. Seiring berjalannya waktu, Etek Nur mencoba memasarkan dengan cara "door to door" ke komplek perkantoran Pemerintah Kabupaten Solok.

baca juga: DPR Minta Pemerintah Tertibkan Importir Alkes Penanganan COVID-19

Dalam perjalanannya, Etek Nur tidak berusaha sendiri, ia mengajak serta adik-adiknya untuk mendirikan sebuah kelompok usaha dalam membangun ekonomi keluaraga. "

"Untuk masuk ke wilayah pemerintahan, kami mengemasnya dengan ukuran 250 gr dengan harga jual Rp 10 ribu. Dalam satu minggu, penjualan bisa mencapai Rp 1 juta. Sehingga dalam sebulan, bisa menghasilkan Rp 5 juta," jelasnya.

baca juga: Permintaan Meningkat, Harga Minyak Dunia Ikut Naik

Dalam pengembangan usaha yang dilakukan, tentunya kendala juga datang silih berganti. Kendala itu diantaranya dana dan alat yang digunakan dalam produksi masih sederhana. "Walaupun seperti itu, saya berharap usaha ini tetap berjalan dengan baik. Karena dengan usaha ini, saya bisa membantu ekonomi keluarga," jelasnya. Selain itu, kami berharap juga ada pengembangan produk usaha dari bahan dasar ini dalam bentuk lain.

Walaupun dengan usaha yang hanya berkembang di dapur keluarga, usaha ini sudah mendapat dukungan penuh dari Dinas Koperindag Kabupaten Solok. Dukungan yang diberikan dalam bentuk pelatihan dan keikutsertaan kelompok ini dalam berbagai acara pameran yang diadakan oleh pemerintah daerah setempat.

"Alhamdulillah, dengan usaha yang masih skala kecil ini, kami sudah mulai dilirik dan diperhatikan oleh pemerintah Kabupaten Solok. Salah satunya dengan mengikuti pelatihan atau pameran yang diadakan oleh Koperindag. Selain itu, jika ada pameran-pameran yang diadakan di pusat pemerintahan kabupaten, kami juga sering diundang. Sehingga kami menjadikan itu juga sebagai ajang promosi bagi usaha ini," tuturnya. 

Sementara itu, Kepala Bidang UMKM Kabupaten Solok, Dian Rilawati yang dihubungi secara terpisah mengatakan, sejauh ini pemerintah daerah juga terus mensupport setiap usaha kecil menengah yang berkembang. "Kita mensuppport dengan memberikan pelatihan-pelatihan. Mereka diberikan pelatihan secara bergiliran dengan menghadirkan narasumber yang ahli di bidangnya atau mengirim mereka ke daerah lain yang juga melakukan pelatihan ini," tuturnya.

Selain itu, pihaknya melihat usaha Pisang Sale Uni Mala ini juga sudah menunjukkan perkembangan yang sangat baik. Ia bisa berkembang dengan usaha rumahan yang mampu merambah pasar yang cukup luas, walaupun dengan sistem "door to door" yang diyakini mereka sebagai hal yang baik dalam berjualan. 

"Kami dari pihak UMKM (Koperindag) sangat bangga dengan hal ini. Secara tidak langsung, usaha yang digerakkan oleh kaum perempuan ini (Ibu-ibu rumah tangga) mampu membantu perekonomian keluarga. Sehingga tidak hanya mengharapkan pendapatan dari kepala keluarga (suami). Ini sangat bagus sekali," jelasnya.

[Jetas Rahman]

Penulis merupakan Mahasiswa pascasarjana ilmu komunikasi unand

Penulis: Fitria Marlina