Ekspor Tumbuh, Minuman Beralkohol Indonesia Bakal Rambah Pasar AS

Ilustrasi
Ilustrasi (Net)

EKONOMI, KLIKPOSITIF -- Kementerian Perinduatrian menilai minuman beralkohol (minol) berupaya memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional.

Selain mampu menyumbang cukai yang cukup besar, industri minolturut mendongkrak nilai ekspor melalui perluasan ke pasar nontradisional atau negara tujuan baru.

baca juga: Jaga Pasokan Oksigen Rumah Sakit, Kemenperin Gandeng Pelaku Industri dan Asosiasi

"Dengan adanya penerimaan devisa dari ekspor ini tentu dapat mengurangi defisit neraca perdagangan kita," kata Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Achmad Sigit Dwiwahjono.

Berdasarkan catatan Kemenperin , industri minol turut berperan dalam penerimaan negara dari nilai cukai sebesar Rp5,27 triliun pada tahun 2017.

baca juga: Kemenperin Akselerasi Ekosistem Industri Baterai Litium Kendaraan Listrik

Jumlah tersebut teebilang naik sekitar 2,63 persen dibanding penerimaan cukai tahun 2016 yang mencapai Rp5,14 triliun.

Selanjutnya, dalam lima tahun terakhir, rata-rata pertumbuhan nilai ekspor bir tercatat hingga 12 persen per tahun.

baca juga: Honda Beri Mesin Baru untuk Monkey 2022

Selama ini, kata Sigit tujuan ekspor bir hanya terbatas ke negara tradisional seperti Malaysia, Thailand, Kamboja, Singapura,Timor Timur, dan negara lainnya dengan nilai USD7,6 juta pada tahun 2017.

Oleh karena itu, Kemenperin memberikan apresiasi kepada PT Multi Bintang Indonesia Tbk yang bisa menembus pasar ekspor ke AS.

baca juga: Kementerian ESDM Dorong Industri Lampu LED Dalam Negeri yang Berkualitas Tinggi

"Dengan keberhasilan ekspor perdana Bir Bintang oleh PT Multi BintangIndonesia Tbk ke AS, tentu menjadi suatu breakthrough atau terobosan baru mengingat ketatnyapersaingan produk untuk dapat masuk pasar di sana," ungkap Sigit.

Hal tersebut sejalan dengan penerapan Peraturan Presiden Nomor 74 Tahun 2013 tentang Pengendalian dan Pengawasan Minuman Beralkohol.

Serta Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 63 Tahun 2014 dan perubahannya Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 62 Tahun 2015 tentang Pengendalian dan Pengawasan Industri dan Mutu Minuman Beralkohol.

Di samping itu, adanya penerapan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 1993 tentang Daftar Bidang Usaha yang tertutup Bagi Penanaman Modal.

"Artinya, sudah tidak dibuka investasi baru di bidang usaha industri  minol ini,” imbuhnya kemudian.

Di sisi lain, Sigit menambakan bahwa industri  makanan dan minuman  masih menjadi andalan dalam mendongkrak perekonomian nasional.

Potensi sektor ini karena didukung oleh sumberdaya alam yang berlimpah dan permintaan domestik yang besar.

" Industri makanan dan minuman merupakan satu dari lima sektor industri prioritas dalam pelaksanaan revolusi industri keempat sesuai peta jalan Making Indonesia 4.0," papar dia.

Hal ini mengingat industri makanan dan minuman senantisa berkontribusi cukup besar terhadap PDB nasional, nilai ekspor, dan penyerapan tenaga kerja.

Pada triwulan II tahun 2018, pertumbuhan industri makanan dan minuman mampu mencapai 8,67 persen atau di atas pertumbuhan ekonomi nasional. 

Sementara itu, pertumbuhan ekspor pada periode Januari-Juni tahun 2018 untuk industri makanan tumbuh sebesar 2,51persen,sedangkan industri minuman tumbuh sebesar 8,41 persen.

Dengan demikian, ia mengaku bahwa akan terus memacu produktivitas dari sektor hulu, mendorong penerapan teknologi terkini, serta memberdayakan sektor industri kecil dan menengah (IKM) yang terkait.

"Kami juga berupaya untuk meningkatkan efisiensi pada rantai pasokan, menciptakan inovasi kemasan makanan dan minuman yang modern, meningkatkan skala ekonomi industri , serta mempercepat ekspor," paparnya.

Terakhir ia menyebut bahwa Industri makanan dan minuman di dalam negeri tidak hanya didominasi perusahaan besar, tetapi juga cukup banyak sektor industri kecil dan menengah (IKM). 

IKM makanan dan minuman berkontribusi sebesar 40 persen terhadap PDB sektor IKM secara keseluruhan, dan mampu menyerap tenga kerja hingga 42,5 persen dari total pekerja di sektor IKM.

Oleh karena itu, IKM makanan dan minuman menjadi salah satu sektor prioritas dalam penerapan program e-Smart IKM seiring implementasi industri 4.0 di Tanah Air. 

Hingga bulan Mei 2018, jumlah pelaku IKM yang telah mengikuti Workshop e-Smart IKM berjumlah 2430 IKM, dan lebih dari 30 persen peserta berasal dari pelaku IKM makanan dan minuman.(*)

Penulis: Ocky Anugrah Mahesa