Modal Nekat Kris Hasilkan Aset Rp70 Juta dari Kambing Etawa

Peternak Kambing Etawa, Ari Krisbiantoro (31) memberi makan ternaknya di RT 03, RW 02, Kelurahan Lubang Panjang, Kecamatan Lembah Segar, Kota Sawahlunto.
Peternak Kambing Etawa, Ari Krisbiantoro (31) memberi makan ternaknya di RT 03, RW 02, Kelurahan Lubang Panjang, Kecamatan Lembah Segar, Kota Sawahlunto. (KLIKPOSITIF/ Muhammad Haikal)

SAWAHLUNTO, KLIKPOSITIF - Menjadi peternak Kambing Etawa sepertinya memang menjadi pilihan hidup Ari Krisbiantoro (31). Anak kedua dari tiga bersaudara itu berujar, lebih enak sebagai peternak kambing daripada bekerja di perusahaan pembiayaan kendaraan bermotor atau lebih dikenal dengan leasing.

Pagi itu, di 3 kandang yang luas masing-masingnya 3 x 10 meter persegi, pria yang lebih akrab disapa Kris, sibuk mengurusi Kambing Etawa miliknya. Mulai dari membersihkan kandang, menyiapkan rumput, dan memeras susu untuk dipasarkan ke pelanggan.

baca juga: Hendro Mardika, Entrepreneur Muda yang Sukses Berbisnis di Industri Pendidikan Berkat Try Out Online (Education Technology)

Ke 18 kambing itu dibagi dalam 3 kandang yang berada di RT 03, RW 02, Kelurahan Lubang Panjang, Kecamatan Lembah Segar, Kota Sawahlunto. Bermodal nekat, Kris memiliki uang sebesar Rp4 juta memberanikan diri membeli sepasang Kambing Etawa di sebuah peternakan Kambing Etawa milik temannya di Kota Solok.

Usaha yang dirintis sejak 2013 itu berbuah hasil, hingga kini Kris sudah memiliki 18 ekor Kambing Etawa dengan total aset sekitar Rp70 juta. Setiap pagi dan sore, ia harus mencarikan 80 kilogram rumput untuk dimakan oleh kambing-kambing miliknya itu.

baca juga: HUT ke-131, Pemko Sawahlunto Gandeng Agen Perjalanan Wisata untuk Promosi World Heritage

Kepada KLIKPOSITIF , Kris mengatakan 18 ekor kambing yang ia miliki sekarang berasal dari kambing yang berkembang biak dan hasil dari penjualan susu kambing yang simpan lalu dibelikan lagi ke kambing.

"Awalnya cuma sepasang, kemudian ada yang beranak dan juga ada yang dibeli dari hasil penjualan susu yang dikumpulkan sedikit-sedikit," kata lelaki tamatan SMA ini. Walau hanya tamat sekolah tinkat atas, niatnya untuk mengembangkan usaha ini dilakukan dengan serius dengan terus belajar dan belajar.

baca juga: "Rangkayo Mudo Dirajo" Gelar Adat Untuk Walikota Deri Asta

"Ada juga yang sudah di jual kepada peternak Kambing Etawa lainnya," sambungnya sembari membuat stek Pohon Tin. Uniknya lagi, semua kambing yang ada dikandang tersebut memiliki akta kelahiran di smartphone miliknya dan semua diberi nama dengan nama tokoh wayang antara lain Sadewa, Jasaranda, Nakula, dll.

Di peternakan miliknya itu ada dua jenis kambing yakni Jawarandu dan Etawa Kaligesing. Sementara itu, harga di pasaran untuk kambing siap perah berkisar Rp4 juta.

baca juga: Pelajar Asal Sitiung Raih Runner Up di Ajang AHMBS 2019

Setiap harinya, 3 Kambing Etawa yang diperah mampu memproduksi susu 1,5 hingga 2 liter. Pada hari Selasa dan Rabu, Kris akan memasarkan susu Kambing Etawa tersebut ke pelanggan dan ke kantor-kantor di Sawahlunto. Kris mampu menjual susu tersebut seharga Rp80 ribu setiap liternya.

Dengan malu-malu ia mengangguk, saat memperkirakan penghasilannya setiap bulannya berkisar Rp3,5 hingga Rp4 juta.

Kris mengaku saat ini kewalahan menerima permintaan susu Kambing Etawa. Pasalnya susu yang diproduksi saat ini menurun. Meski sudah di siasatinya dengan menjual susu dalam bentuk bubuk yang dipesan dari Yogyakarta. "Saat ini belum bisa memenuhi seluruh permintaan akan susu segar, sudah disiasati dengan susu bubuk, namun pelanggan lebih menyukai yang segar," ulasnya.

Beberapa waktu lalu, saat produksi susu Kambing Etawa miliknya meningkat, ia mengolah beberapa produk turunan seperti Es Susu Etawa, Sabun Susu Etawa, dan Yoghurt Etawa.

Kris ingin sekali berbagi ilmu kepada peminat usaha peternakan Kambing Etawa ini di Sawahlunto. Jika banyak peminat di usaha peternakan Kambing Etawa akan lebih mudah mendirikan kelompok tani, dan juga bisa menjawab kekurangan stok susu Kambing Etawa di Sawahlunto.

"Kalau ada yang mau belajar dan beternak seperti ini bagus sekali. Kalau banyak yang ikut bisa bikin kelompok tani dan ini bisa mengatasi kekurangan stok susu," jelasnya.

Untuk memerah susu supaya steril dan bebas bakteri, Kris melakukannya dengan beberapa cara, awalnya susu di lap pakai kanebo, kemudian diusap pakai air panas, kemudian dipencet tiga kali untuk membersihkan sumbatan, selanjutnya baru di tampung ke dalam botol. Setelah itu susu disimpan dalam kulkas hingga kedatangan pelanggan.

Kris juga mempelajari penyakit-penyakit yang sering menyerang kambing, jika kambingnya terserang penyakit Kris akan menanganinya sendiri tanpa perlu bantuan mantri hewan ataupun dokter hewan. "Untuk penyakitnya dipelajari sendiri dan ditangani sendiri," ucapnya.

Selain itu, Kris menambah pundi-pundi keuangannya dari penjualan kotoran kambing yang mencapai Rp1 juta perbulan. Semua itu baik dalam bentuk bulat-bulat, basah maupun yang dalam bentuk tepung yang sudah diolah menjadi pupuk.

Kedepannya, Kris berharap dilahan yang ia tempati, ia bisa mendirikan agrobisnis dan agrowisata dari kambing etawa dan tanaman-tanaman yang dibudidayakan.

Diatas lahan 1/4 hektare itu dia sudah membudidayakan buah tin, zaitun, bidara, dan kurma dan tanaman lainnya. "Harapannya bisa mendirikan agrobisnis dan agrowisata dengan nama Krisbiantoro Farm," tutup pria yang murah senyum itu.

[Muhammad Haikal]

Penulis: Fitria Marlina