Saat Modal Jadi Pengganggu Usaha Pisang Sale

Usaha Pisang Sale Upik Mala
Usaha Pisang Sale Upik Mala (KLIKPOSITIF)

SOLOK, KLIKPOSITIF - Alam Kabupaten Solok yang sejuk dan berada di daerah pegunungan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar, terutama soal suburnya tanaman yang tumbuh di daerah itu. Tanaman yang tumbuh juga memberikan banyak manfaat dan nilai ekonomi bagi masyrakat sekitar. Sebut saja beras sebagai makanan pokok masyarakat Indonesia. Daerah ini bahkan menjadikannya tidak hanya sebagai makanan pokok, namun juga ikon daerah dengan brand "Bareh Solok" yang tidak hanya terkenal di daerah Sumatera Barat, namun juga sudah terkenal hingga ke manca negara.

Dengan mayoritas masyarakat bekerja sebagai petani, beras daerah ini tidak hanya menunjang kebutuhan masyarakatnya, namun juga daerah lain yang ada di Sumatera Barat bahkan nasional. Sebagai masyarakat yang menggantungkan kehidupan kepada pertanian, tidak semua masyarakat mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sebagai petani. Dengan hasil panen yang hanya bisa dituai 3 kali dalam setahun, membuat masyarakat di daerah ini mencari peluang usaha lainnya dalam berbagai bidang, seperti berdagang, berkebun, dan membuka usaha.

baca juga: Ingat Janji Nasrul Abit Menjelang Pilgub! Perbaikan 17 Kilometer Jalan Garabak Data

"Kami memulai usaha ini berawal dari kesulitan ekonomi keluarga. Kebutuhan yang semakin meningkat, membuat kami terkadang kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dari sanalah kami mulai berpikir bagaimana cara menutupi hal ini. Kincie-kincie (otak kami) jalankan untuk memenuhi kebutuhan agar bisa bertahan hidup. Karena mengandalkan uang suami saja jelas tidak bisa menutupi semua kebutuhan. Maka pada tahun 2011 itu, kami mencoba membuka usaha ini secara kecil-kecilan," kenang Nurdasmi, Owner dari Usaha Pisang Sale Upik Mala

Pada Januari 2011 tepatnya, Upik Mala mulai memproduksi Pisang Sale. Alasan memilih produk ini karena bahan yang mudah didapat kala itu. "Bahan dasarnya pisang. Dan pada masa itu, pisang sangat mudah didapat di sekitar rumah. Maka bermodalkan ilmu yang didapat saat mengikuti pelatihan yang diadakan Dinas Koperindag Kabupaten Solok , kurang lebih pada 2010, kami mengingat kembali ilmu itu untuk dipraktikkan lagi," paparnya, Rabu, 25 Juli 2018.

baca juga: Kunjungi Daerah Terisolir di Kabupaten Solok, Nasrul Abit Janji Sejahtera Warga Garabak Data

Di awal produksi, pihaknya yang beraggotakan kurang lebih 10 orang mulai memproduksi Pisang Sale. Untuk produksi pada tahap awal, pihaknya mengemas dengan jualan Rp1000. Kemasan itu diproduksi sebanyak 50 hingga 100 kemasan perhari. Untuk pemasarannya dilakukan di warung-warung dekat rumah dengan jumlah kurng lebih 10 warung. Hasil penjualan yang didapat dari usaha itu cukup mampu membantu ekonomi mereka.

"Anak masih bisa melanjutkan sekolah dengan uang hasil penjualan itu. Dapur masih berasap dengan uang hasil penjualan dari Pisang Sale ini. Karena kami tahu, bahwa si Ibu yang ada dirumahlah yang bisa menjawab semua kebutuhan itu, seperti rengekan uang belanja anak, uang sekolah, dll. Walaupun Bapak telah mencari nafkah, namun untuk manajemen mencukupkan uang di rumah hanya Ibu yang bisa melakukan," tuturnya.

baca juga: Bawa Sabu dan Ekstasi, Dua Pengangguran Diciduk Polisi di Solok

Dengan memakai istilah "Baju Sahalai", usaha ini masih tetap bisa bertahan hingga saat sekarang ini. "Istilah ini bagi kami, ibarat membuat usaha, dan usaha yang dibuat itu juga menghasilkan uang hampir disaat yang bersamaan. Jadi uang kami tidak tertahan pada penjual, sehingga kami bisa membuat usaha itu lagi dan lagi secara berkelanjutan," tuturnya.

Kendala yang masih menjadi momok bagi usaha kecilnya ini yakni bagian modal. Pihaknya menyadari, usaha yang dimulai dengan niat "coba-coba menambah penghasilan keluarga" dulunya juga tidak menyediakan modal yang banyak. "Modal awal yang berasal dari uang-uang lebih saat bertani, maka itu yang kita pakai untuk membuka usaha. Namun selama ini, keuntungan kecil dari usaha ini juga kita pakai untuk kebutuhan sehari-hari dan sedikit-sedikit menambah modal," jelasnya.

baca juga: Yulfadri Nurdin Siap Tantang Epyardi Asda di Pilkada Solok

Modal menurut Upik Mala bukanlah masalah uang, namun masalah peralatan yang masih sangat minim dimilikinya dalam memenuhi kebutuhan pasar. "Kendala modal bagi kami bukan uang untuk membeli bahan pembuatan Pisang Sale, namun modal alat yang tidak mampu memenuhi kebutuhan pasar. Misalnya, kami hanya menggunakan kuali kecil untuk penggorengan, sehingga untuk penggorengan saja menghabiskan waktu hingga berjam-jam karena kapasitas yang kecil. Itu satu contoh kecil. Selain itu, untuk terkadang kendala di kompor yang tidak bisa digunakan secara bersamaan untuk memasak," tuturnya.

Terkait dengan permasalahan itu, sebenarnya sudah banyak masukan dan solusi untuk masalah itu, namun pihaknya hanya tidak mau mengambil risiko dengan peminjaman yang dikaitkan dengan bunga bank atau agunan lainnya. "Kami bukan tak mau berkembang dengan modal yang lebih besar, hanya saja risiko untuk hal itu cukup besar, sehingga kami tak berani mengambil risiko itu," tuturnya.

Ia berharap ada pihak-pihak yang bisa memberikan tambahan modal berupa dana hibah dalam melengkapi pembelian alat yang dibutuhkan dalam produksi. "Kami tidak berharap banyak. Hanya berharap pada apa-apa yang kami tuturkan tadi," jelas Ibu dua anak ini. 

[Jetas Rahman]

Penulis: Fitria Marlina