Menjadi Juara Ditengah Kekurangan

Usaha Pisang Sale Upik Mala
Usaha Pisang Sale Upik Mala (KLIKPOSITIF)

KLIKPOSITIF - Menjadi juara di tengah-tengah kekurangan yang dimiliki menjadi satu hal yang harus ditanam kuat oleh Ibuk Upik Mala. Yah, itu menjadi satu tekad yang harus ia jaga dan sebarkan ke kawan-kawan seprofesinya dalam usaha kelompok Pisang Sale yang berada di Jawi-jawi Solok, Sumatera Barat.

Dengan semangat juang yang tinggi, ketua kelompok dengan dua anak ini tetap bertekad mengubah ekonomi keluarga ke arah yang lebih baik. Dengan sedikit ilmu yang didapatnya dari pelatihan yang pernah diikutinya tujuh tahun lalu, usaha pisang Sale kelompoknya masih bisa bertahan hingga sekarang ini.

baca juga: Bertambah 13 Orang, Covid-19 Kabupaten Solok Capai 1.359 Kasus

"Bertahan itu yang menjadi tantangan bagi kami untuk bisa terus menghasilkan produk yang bisa diterima masyarakat. Pernah terpikir akan berhenti saja untuk berusaha, namun disaat hal itu terpikir, tiba-tiba ada pesanan yang membuat kami tetap harus bergerak. Setiap kali terpikir letih, ada lag hal yang mendorong untuk
tetap bergerak," katanya beberapa waktu lalu.

Perempuan yang dulunya berprofesi sebagai petani ini juga yakin dengan segala rezeki yang datang kepadanya jika ia berusaha. Maka dengan keyakinan itulah, ia juga berusaha menyebarkan kepada masyarakat yang ada di sekitar tempat tinggalnya untuk menjadi lebih baik dalam usaha membantu keluarga. "Kita hanya ingin menjadi yang lebih baik dari sebelumnya. Sehingga saya mencoba menebarakan energi positif ini kepada pihak-pihak terdekat," jelasnya.

baca juga: Satu Kecamatan Satu Eskavator, John Hendra : Memang Dibutuhkan Masyarakat

Tujuh tahun perjalanan usaha kelompoknya, kelompok usaha Upik Mala masih memiliki kendala di permodalan. Seakan itu menjadi hal yang tak pernah tuntas hingga hari ini. "Kendala itu lebih di modal alat seperti kompor dan kuali (wajan) yang digunakan dalam menggoreng Pisang Sale. Wajan yang digunakan masih ukuran sedang sehingga membutuhkan beberapa kali penggorengan dalam menghasilkan Pisang Sale," jelasnya.

"Jika kami memakai istilah, baju yang kami miliki masih sehelai, sehingga tak ada upaya lebih dalam melengkapi kebutuhan alat. Keuntungan yang didapat tak lebih kepada untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Sehingga lebih kepada istilah dapat dan habis. Jika keuntungan didapat, maka akan digunakan untuk kebutuhan keluarga," tuturnya.

baca juga: Pasca Pilkada, Bupati Solok Minta Masyarakat Kembali Bersatu

Diakuinya untuk bantuan modal usaha yang didapat selama ini yakni timbangan dan alat untuk membungkus produk, didapatkan dari Dinas Koperindag Kabupaten Solok beberapa tahun lalu. "Kita ikut pelatihan yang diadakan oleh pihak pemerintah daerah. Setelah berdiskusi soal produk dari kelompok kami, maka kita mendapat bantuan modal berupa peralatan," jelasnya.

Diakuinya, terkadang pihaknya mendapat pesanan yang besar, namun karena terkendala alat, tak khayal banyak orderan yang ditolak karena tak bisa memenuhi permintaan karena alat yang tak bisa memproduksi. "Orderan itu datang di saat yang tak disangka-sangka. Terkadang ada yang yang meminta puluhan kilo dala jangka waktu dua hari, namun hal itu tidak bisa kami penuhi karena alat untuk memproduksi tidak bisa mensupport dengan maksimal, sehingga dengan berat hati harus kami tolak," katanya dengan wajah sedih.

baca juga: Gubernur Sumbar: Menjaga Nilai Minangkabau

Bagi Upik Mala, bantuan modal usaha yang diharapkan berupa alat merupakan hal yang lebih dari cukup. Pihaknya sengaja menghindari pinjaman modal usaha dengan cara agunan. Alasannya sederhana, pihaknya hanya tak punya uang setiap hari atau setiap bulan untuk disetor dengan jumlah yang sudah ditetapkan. "Kita tak punya uang banyak dengan tagihan seperti itu. Selain itu, jika ada penjemputan uang tagihan yang dilakukan ke rumah, itu adalah hal yang sangat tidak nyaman," tuturnya.

Baginya dan kelompok, dana hibah adalah piliha terbaik agar tak terjebak dengan hutang dalam mengembangkan usahanya. "Jika ada donatur atau dana hibha, tentunya itu lebih baik daripada pinjaman. Jika ada yang berniat sedekah, tentunya akan kami terima dalam mengembangkan produk usaha ini," tuturnya.

Sementara itu, Dinas Koperasi dan Perdagangan (Koperindag) Kabupaten Solok Bidang Permodalan, Dian saat dihubungi secara terpisah mengatakan modal usaha yang digelontorkan oleh pemerintah daerah lebih kepada pelatihan dan bantuang modal berbentuk alat.

"Untuk pelatihan dan alat sudah dianggarkan setiap tahunnya, namun dengan banyaknya jumlah UMKM saat ini di Kabupaten Solok , kita tentunya juga harus rata dalam memberikan bantuan modal," jelasnya

Diakui Dian, saat ini ada lebih dari 1500 UMKM yang ada di Kabupaten Solok . "Dan lebih dari 50 persen merupakn produk yang bergerak di bidang makanan, sehingga bantuan dana pemerintah tentunya tidak bisa memenuhi semua kebutuhan yang diinginkan dalam satu waktu. Dan tentunya ini bertahap," jelasnya.

Dian tentunya juga berharap ada pihak yang bisa memberikan bantuan kepada Kelompok Usaha Pisang Sale Upik Mala dalam mengembangkan sayapnya lebih luas lagi kedepannya. 

[Jetas Rahman]

Penulis: Fitria Marlina