Menaker: Revolusi Industri 4.0 Bakal Ciptakan 3,7 Jenis Pekerjaan Baru

Ilustrasi
Ilustrasi (KLIKPOSITIF/Ocky Anugrah Mahesa)

EKONOMI, KLIKPOSITIF -- Menteri Ketenagakerjaan M Hanif Dhakiri menilai di era revolusi industri 4.0 mendatang akan ada pekerjaan baru yang muncul dan akan ada beberapa pekerjaan lama yang menghilang.

Ia menjelaskan, dunia industri akan mengalami disrupsi dan mengalami koloborasi beberapa jenis platform baru sehingga menghasilkan jenis industri baru, hal ini berdampak pada jenis pekerjaan dalam industri tersebut.

baca juga: Ini Syarat Lengkap Pekerja Gaji Dibawah Rp5 Juta dapat Rp600 Ribu per Bulan dari Pemerintah

"Saat ini kita telah memasuki era revolusi industri 4.0, dalam era ini 3,7 Juta Pekerjaan baru akan muncul sebagai dampak ekonomi digital dan 52,6 juta pekerjaan berpotensi akan hilang," katanya.

Menurutnya, masa depan pekerjaan dalam era revolusi industri 4.0 akan banyak dipengaruhi oleh kehadiran big data. Keberadaan big datapun dianggap memiliki peluang menjanjikan untuk merevolusi dunia industri secara global.

baca juga: Industri Farmasi dan Alat Kesehatan Masuk Program Making Indonesia 4.0

"Dibandingakan dengan era revolusi industri sebelumnya, generasi ke 4.0 lebih sulit untuk diprediksi arah perubahannya. Kehadiran big data menjadi faktor penting yang melandasi perubahan tersebut," terang Hanif

Untuk itu, tambah dia, kuncinya ada pada penciptaan tenaga kerja kompeten secara kualitas, kuantitas, dan persebaran. Dimana kualitas harus sesuai kebutuhan pasar kerja.

baca juga: Legislator: COVID-19 Belum Tuntas, Tolak TKA Masuk Indonesia

Kemudian kuantitas atau jumlah tenaga kerja harus banyak (memadai). Persebaran, tersebar merata di seluruh wilayah Indonesia.

"Saat ini, terjadi perubahaan paradigma tehadap pekerjaan. salah satu pola yang terbentuk adalah manusia tidak lagi mengejar status pekerjaan tetap, tetapi memilih untuk tetap bekerja. Kita tidak bahagia dengan keadaan ini, tapi begini lah dunia sekarang ini, kita harus siap menghadapinya," jelas Hanif.

baca juga: Bangun Megaproyek Kilang Minyak, ESDM: Serap Ratusan Ribu Tenaga Kerja

Ia kemudian memaparkan tiga kelemahan pekerja Indonesia, yang pertama adalah mengenai karakter dan etos kerja. Di dunia kerja karakter itu menjadi modal utama agar pekerja kita siap bersaing di pasar kerja global.

"Pekerja Indonesia kurang memiliki etos kerja yang kuat, selain itu bila melihat kondisi SDM di Indonesia, kita juga lemah dalam penguasaan bahasa asing (Inggris). Kelemahan lainya pada umumnya adalah penguasaan komputer/IT," pungkasnya.(*)

Penulis: Ocky Anugrah Mahesa