Tahun Depan, Pemerintah Targetkan Bangun 18 Kawasan Industri di Luar Jawa

Ilustrasi
Ilustrasi (KLIKPOSITIF/Ocky Anugrah Mahesa)

EKONOMI, KLIKPOSITIF -- Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian menargetkan pembangunan 18 kawasan industri di luar Pulau Jawa di tahun 2019. Hal itu diungkapkan oleh Menperin, Airlangga Hartarto.

Ia mengatakan bahwa saat ini ada 8 proyek kawasan industri yang sedang tahap kontruksi, sedangkan 10 lainnya masih perencanaan.

baca juga: KTM Kembangkan Teknologi Motor Listrik

"Sampai November 2018, telah beroperasi 10 kawasan industri yang termasuk proyek strategis nasional (PSN)," katanya melalui sebuah pernyataan resmi.

Sebanyak 18 kawasan industri yang tengah dikebut pembangunannya sehingga diharapkan bisa selesai pada tahun depan, yaitu di Lhoukseumawe, Ladong, Medan, Tanjung Buton, Landak, Maloy, Tanah Kuning, dan Bitung. Kedelapan kawasan industri ini yang sedang tahap konstruksi.

baca juga: Kemenperin Dorong Investasi Baterai Mobil Listrik

Sementara itu, 10 kawasan industri yang masih tahap perencanaan adalah di Kuala Tanjung, Kemingking, Tanjung Api-api, Gandus, Tanjung Jabung, Tanggamus, Batulicin, Jorong, Buli dan Teluk Bintuni.

"Kami memproyeksi nantinya terjadi peningkatan kontribusi sektor industri pengolahan nonmigas di luar Jawa sebesar 60 persen dibanding di Jawa," ungkap Airlangga.

baca juga: Hyundai Kembangkan Teknologi Pendingin Udara Baru

Airlangga menjelaskan, kawasan industri di Jawa akan difokuskan pada pengembangan jenis industri tertentu, sedangkan pengembangan kawasan industri baru di luar Jawa diarahkan pada industri berbasis sumber daya alam dan pengolahan mineral.

"Misalnya di Sei Mangkei dan Kuala Tanjung akan menjadi klaster pengembangan industri berbasis agro dan aluminium karena di sana ada Inalum dan industri pengolah CPO," jelas dia.

baca juga: Piaggio Poles Vespa Primavera dengan Sejumlah Warna Baru

Ia menambahkan, ini juga merupakan langkah Kemenperin memacu hilirisasi industri . "Seperti Inalum sudah memproduksi aluminium alloy yang bisa digunakan sektor otomotif untuk blok mesin," imbuhnya.

Upaya strategis tersebut tentu untuk meningkatkan nilai tambah bahan baku dalam negeri sehingga dapat mensubstitusi produk impor, meningkatkan penerimaan devisa dari hasil ekspor, dan melengkapi rantai pasok manufaktur di Indonesia. Selain itu mampu memperdalam struktur industri di Indonesia.

"Contohnya di Morowali, kita sudah berhasil melakukan hilirisasi terhadap nickel ore menjadi stainless steel. Kalau nickel ore dijual sekitar USD40-60, menjadi stainless steel harganya di atas USD2000. Kita sudah mampu ekspor dari Morowali senilai USD4 miliar, baik itu hot rolled coil maupun cold rolled coil ke Amerka Serikat dan China," paparnya.

Airlangga menambahkan, pembangunan kawasan industri diyakini dapat meningkatkan nilai investasi di Indonesia.

"Bahkan, dengan berdirinya pabrik akan menyerap banyak tenaga kerja lokal. Ini salah satu bukti dari multiplier effect aktivitas industrialisasi," terangnya.

Hingga November 2018, realisasi investasi sektor industri mencapai Rp70,8 triliun atau 27,72 persen dari seluruh penanaman modal di Indonesia. Sementara, pada semester I-2018, jumlah tenaga kerja di sektor industri sudah memebus angka 17,92 juta orang.(*)

Penulis: Ocky Anugrah Mahesa