Tertinggi dalam 5 Tahun Terakhir, Penerimaan Pajak Tahun 2018 Tembus 92,41 Persen

Ilustrasi
Ilustrasi (Net)

EKONOMI, KLIKPOSITIF -- Kementerian Keuangan melalui laporan APBN Kita bulan Januari 2019 mencatat, penerimaan pajak pada tahun 2018 mencapai Rp1.315 triliun, atau 92,41 persen dari yang ditargetkan dalam APBN .

Menurut catatan Kemenkeu , capaian di tahun 2018 ini merupakan yang tertinggi dalam lima tahun terakhir.

baca juga: Ini Langkah Kemenkeu Untuk Mitigasi Risiko Keuangan Negara di Tengah Pandemi Covid-19

Dalam laporan tersebut, Kemenkeu menjelaskan bahwa ada dua hal faktor pendorong pencapaian penerimaan pajak tersebut.

Pertama, capaian ini diraih tanpa melalui mekanisme perubahan APBN ( APBN -P). Kedua, capaian ini tetap mampu diraih meski terdapat pengurangan penerimaan potensial dari pemberian fasilitas perpajakan.

baca juga: Anggaran Kemenkeu Tahun 2021 Rp 43,3 Triliun

Untuk penerimaan piotensia, terutama didukung oleh penurunan tarif Pajak Penghasilan (PPh) bagi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM)-dari sebelumnya 1 persen menjadi 0,5 persen-dan program percepatan restitusi (pengembalian kelebihan pembayaran pajak ).

Positifnya kinerja penerimaan pajak juga tercermin pada capaian pertumbuhannya. Apabila dibandingkan tahun 2017, penerimaan perpajakan mengalami pertumbuhan double digits, sebesar 14,33 persen year-on-year (yoy).
Pertumbuhan ini masih lebih besar dibandingkan pertumbuhan tahun lalu, yang mencapai 4,07 persen yoy.

baca juga: Dongkrak Daya Beli, Pemerintah Rencanakan Pajak Mobil Baru 0 Persen

Bahkan capaian ini merupakan angka pertumbuhan tertinggi dalam 7 tahun terakhir. Apabila penerimaan Tax Amnesty (Pengampunan Pajak ) pada triwulan I tahun 2017 dikeluarkan dari perhitungan (merupakan penerimaan yang bersifat one-off / tidak berulang sebesar Rp12,03 triliun), pertumbuhan penerimaan pajak mencapai 15,53 persen yoy.

"Tingginya pertumbuhan penerimaan pajak cukup menggembirakan, mengingat angka tersebut jauh lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi (outlook pertumbuhan ekonomi 2018 sebesar 5,15 persen dan inflasi 3,13 persen)," tulis Kemenkeu dalam laporan tersebut.

baca juga: Akan Disuntik Dana Rp5 Triliun, DPR Minta PLN Merinci Efektifitas Rencana Penggunaan Anggaran

Jika ditelisik lebih dalam, Kemenkeu menjelaskan bahwa sumber pertumbuhan berasal dari kinerja jenis-jenis pajak utama yang memang cukup menggembirakan, umumnya mengalami pertumbuhan double digits.
Pertumbuhan PPh Nonmigas tercatat mencapai 15,1 persen ditopang oleh pertumbuhan PPh Pasal 25/29 Badan dan Orang Pribadi, yang mulai merasakan efek pelaksanaan program Tax Amnesty.

Sementara itu, penurunan persentase penduduk miskin dan tingkat pengangguran masyarakat mendorong pertumbuhan penerimaan PPh Pasal 21.
Pertumbuhan signifikan juga dicatatkan oleh pajak -pajak atas impor yakni PPh Pasal 22 Impor dan PPN Impor, didorong oleh meningkatnya nilai impor Indonesia di tahun 2018.

Ditinjau dari sisi sektoral, sepanjang tahun 2018 ini sektor-sektor usaha utama mampu mempertahankan pertumbuhan penerimaan pajak double digits.

Sektor Industri Pengolahan tumbuh 11,12 persen yoy, Perdagangan tumbuh 23,72 persen yoy, serta Jasa Keuangan dan Asuransi tumbuh 11,91 persen yoy.
Pertambangan tumbuh 51,15 persen yoy, masih dipengaruhi oleh tren kenaikan harga komoditas tambang. Pertanian tumbuh 21,03 persen yoy, sedangkan Konstruksi dan Real Estat masih mampu tumbuh 6,62 persen.

Berkat pertumbuhan penerimaan pajak yang jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi, angka tax ratio Indonesia pun menunjukkan perbaikan, dari sebelumnya pada tahun 2017 di angka 10,7 persen terhadap PDB, di tahun 2018 ini tax ratio meningkat menjadi 11,5 persen.

Secara umum apabila melihat capaian realisasi penerimaan pajak terhadap target APBN , pertumbuhan penerimaan pajak dan tax ratio, pencapaian tahun 2018 menunjukkan trend perbaikan/rebound setelah mengalami perlambatan dalam lima tahun terakhir.(*)

Penulis: Ocky Anugrah Mahesa