"Siluman" Sebabkan Terus Menghilangnya Komoditi Kakao di Padang Pariaman

(KLIKPOSITIF/ Rahesa)

PADANG PARIAMAN , KLIKPOSITIF -- Kakao pernah menjadi salah satu komoditas perkebunan yang peranannya cukup penting bagi perekonomian masyarakat dibeberapa Kecamatan pada Kabupaten Padang Pariaman .

Pada masa jayanya tanaman kakao atau coklat di tahun 2010 hingga 2015 mencapai 2.562,4 hektare kawasan produksi dengan jumlah produksi mencapai 512,7 ton pertahun dan harga produksi mencapai Rp20.000 perkilogram. Namun kini, perkebunan kakao nyaris tak berarti apapun bagi masyarakat.

baca juga: Sepeda Kian Digemari, Ada Rentalnya di Bukittinggi

Menyelisik perjalanan hidup dan perkembangan tanaman kakao , KLIKPOSITIF memantau lokasi utama lapangan usaha tanaman kakao di beberapa kawasan pada Kabupaten Padang Pariaman diantaranya, Kecamatan V Koto Kampuang Dalam luas 1.008 Ha, Kecamatan V Koto Timur luas 219 Ha, Kecamatan Patamuan luas 194 Ha, Kecamatan Sungai Geringging luas 159 Ha, dan Kecamatan Lubuk Alung luas 243 Ha.

Dilokasi lapangan usaha kakao tersebut, dari lima kecamatan, seluruh petani kakao menyebutkan, tanaman kakao milik mereka hancur karena penyakit dan hama tanaman. Kegagalan perkebunan kakao tersebut membuat petani kakao menyerah, pasalnya banyak sudah upaya yang dilakukan petani untuk menyembuhkan tanaman kakao namun tetap saja tak kunjung sua harapan mereka.

baca juga: Transaksi Akhir Pekan, Emas Batangan Turun Harga

Perihal tidak dapat menemukan imunitas atau obat untuk tanaman mereka, para petani kakao dari lima kecamatan tersebut, mempunyai satu istilah untuk penyakit yang mengrogoti kakao mereka, dengan sebutan "Siluman". Siluman merupakan tafsiran dari penyakit tanaman kakao yang tersembunyi hingga tidak dapat disembuhkan.

Salah satu contoh, dari lima kecamatan tersebut sebagai sampel yaitu kawasan V Koto Kampuang Dalam dengan luas lapangan usaha kakao 1.008 Ha, diperkirakan 400 Ha tanaman kakao menjadi habitan semak belukar. Selebihnya masih ada tanaman kakao yang tersebar namun tak lagi diurus oleh petani.

baca juga: Kasus Corona Terus Bertambah Picu Turunnya Harga Emas Dunia

Salah seorang petani kakao di Kampung Dalam bernama Sahar Dahlan 45 tahun mengutuk "Siluman" yang mengrogoti dan memakan kakao miliknya. 8 Ha kebun kakao miliknya punah dengan meninggalkan bukti fisik buah kakao berwarna hitam, daun menguning, dan dahan kakao menjadi mati.

"Ini ulah "Siluman". Sudah banyak cara yang saya lakukan untuk menyembuhkan kakao namun tetap tidak berhasil. Bahkan pihak pemerintah sudah sering juga menganjurkan dengan berbagai cara, tetap saja gagal," ungkap Dahlan, menjawab KLIKPOSITIF Jumat 24 Mei 2019.

baca juga: Pulang dari Palembang, Warga Solok Positif Covid-19

Dia menjelaskan, salah satu penyakit tanaman kakao miliknya adalah Penyakit Busuk Buah.

"Buah kakao yang terserang berbercak coklat kehitaman, biasanya dimulai dari ujung atau pangkal buah. Kata orang penyuluhan itu penyakit disebarkan melalui perpercik air hujan, dan biasanya penyakit ini berkembang dengan cepat pada kebun yang mempunyai curah hujan tinggi dengan kondisi lembab," jelas Dahlan, kepala keluarga yang menghidupkan 4 orang anaknya.

Dijelaskannya, pihak pemerintah menyuruh untuk mengendalikan dengan cara Sanitasi kebun, dengan memetik semua buah busuk lalu membenamnya dalam tanah sedalam 30 cm. Namun usaha itu gagal. "sudah saya lakukan itu, mengubur buah yang busuk namun hasilnya nihil," katanya.

Beberapa bulan setelah itu, kata Dahlan lagi, kembali penyuluhan datang menyuruh petani untuk melakukan Kultur teknis, yaitu dengan pengaturan pohon pelindung dan lakukan pemangkasan pada tanaman-nya sehingga kelembaban di dalam kebun akan turun.

"Cara itu gagal juga. Kami diberi gunting untuk memangkas dahan kakao agar kelembaban terjaga namun buah busuk tetap saja ada. Dua cara itu gagal, dan kami beralih pada cara lain yaitu dengan memelihara semut hitam. Itu saya lakukan juga, saat itu kerja saya bertambah selain merawat tanaman saya juga memelihara semut hitam, bahkan kewalahan juga, dimana-mana ada semut hitam, bahkan semut memakan pakaian yang dijemur. Cara itu tetap gagal," ungkap Dahlan.

Terakhir, ungkap Dahlan lagi, ada juga penyuluhan dengan cara kimia, yaitu menyemprot buah dengan fungisida seperti Sandoz, cupravit Cobox, dan sebagainya. Penyemprotan dilakukan dengan frekuensi 2 minggu sekali.

"Namun cara itu lagi-lagi gagal bahkan penyakit kakao saya bertambah yaitu menyerang batang dan cabang, kali ini tidak hanya buah yang diserang "Siluman"," ungkapnya.

Selain Kampuang Dalam, petani kakao di wilayah Sungai Geringgiang menyatakan hal yang sama. Mereka juga mengeluhkan perihal "Siluman". Tak hanya itu, hama Tupai juga penyebab kepunahan tanaman kakao . Salah satu petani kakao bernama Nameh (49) mengatakan pasrah dalam mengatasi hama tanaman kakao miliknya.

"Kalau disini selain hama seperti ulat, hewan Tupai juga menjadi musuh utama tanaman kakao . Tupai disini tak bisa dihalau, bahkan sudah banyak ditembak namun tetap masih banyak berkeliaran, memakan kakao ," ujar Nameh.

Dikatakannya juga, dulu Wali Nagari setempat sudah bergotongroyong bersama warga menembak tupai untuk menyelamatkan tanaman kakao . Bahkan kegiatan itu berkelanjutan dengan memberikan upah kepada pemburu tupai.

"Satu ekor tupai dibayar Rp5000 rupiah. Namun tetap tidak ada perubahan. Sebab di kawasan ini tupai bertahan hidup dengan makanan pokoknya kelapa. Di daerah banyak kelapa, tupai cepat berkembang biak," kata Nameh. (RHS)

Penulis: Eko Fajri