Bawang Putih dan Emas Sumbang Inflasi di Sumbar Akibat Virus Corona

Ilustrasi
Ilustrasi (net)

PADANG, KLIKPOSITIF -- Kepala Bank Indonesia Perwakilan Sumbar Wahyu Purnama A menyebut, pada Februari 2020, bawang putih dan emas perhiasan menyumbang inflasi di Sumbar dengan andil masing-masing sebesar 0,07 persen dan 0,02 persen. Kenaikan tersebut disebabkan oleh mewabahnya virus corona.

"Kenaikan harga bawang putih, terutama didorong adanya isu pembatasan impor dari Tiongkok terkait dengan antisipasi mewabahnya virus corona (COVID-19)," katanya dalam rilis yang diterima KLIKPOSITIF , Selasa (3/2/2020).

baca juga: Uang Anda Rusak? Ini Syarat dan Cara Menukarnya di Bank Indonesia

"Begitu juga dengan kenaikan harga emas perhiasan, disebabkan ketidakpastian global yang turut meningkat akibat kekhawatiran penyebaran virus COVID-19," sambungnya.

Sementara itu, lanjut Wahyu, pihaknya mencatat, Sumbar mengalami deflasi pada Februari 2020. Hal tersebut terlihat dari perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) umum Sumbar yang mengalami deflasi bulanan sebesar -0,20 persen (month to month/mtm), menurun dibandingkan Januari 2020 yang tercatat mengalami inflasi sebesar 0,60 persen (mtm). Sementara itu, laju inflasi Sumbar pada Februari 2020 berada di bawah realisasi inflasi nasional yang sebesar 0,28 persen (mtm).

baca juga: Bank OCBC NISP Luncurkan Gerakan #SAVE20 by Nyala, Menabung Mulai dari Rp20.000

Secara spasial, pada Februari 2020 Kota Padang tercatat mengalami deflasi sebesar -0,29 persen (mtm), menjadikannya sebagai kota dengan nilai deflasi terendah ke-4 dari 8 kota/kabupaten IHK di kawasan Sumatera yang mengalami deflasi serta berada pada peringkat ke-5 deflasi terendah dari 17 kota/kabupaten IHK di Indonesia yang mengalami deflasi.

"Kemudian Kota Bukittinggi, mengalami inflasi sebesar 0,46 persen (mtm) lebih tinggi dari realisasi inflasi pada bulan Januari 2020 yang tercatat inflasi sebesar 0,25 persen (mtm). Realisasi inflasi Kota Bukittinggi menjadikannya sebagai kota dengan nilai inflasi tertinggi ke-5 dari 16 kota/ kabupaten di Kawasan Sumatera yang mengalami inflasi," ujarnya. Selanjutnya secara nasional, Kota Bukittinggi berada pada peringkat ke-25 dari 73 kota/ kabupaten IHK yang mengalami inflasi.

baca juga: Dorong Pemulihan Ekonomi, Suku Bunga Acuan BI Turun Jadi 4,25 Persen

Wahyu menambahkan, secara tahunan, pada Februari 2020 Sumbar mengalami inflasi sebesar 2,28 persen (year on year/yoy) atau menurun dibandingkan realisasi inflasi Januari 2020 sebesar 2,36 persen (yoy) namun lebih tinggi dibanding realisasi inflasi tahun lalu (Februari 2019) yang sebesar 1,95 persen (yoy).

"Nilai inflasi tahunan Sumbar ini tercatat lebih rendah dari realisasi inflasi nasional yang sebesar 2,98 persen (yoy) dan realisasi inflasi Sumatera yang sebesar 2,45 persen (yoy). Sampai dengan Februari 2020 inflasi tahun berjalan Sumbar sebesar 0,40 persen (year to date/ytd) atau turun dibanding Januari 2020 yang sebesar 0,60 persen (ytd)," tuturnya.

baca juga: Inflasi Sumbar pada Mei 0,63 Persen, BI: Terutama Berasal dari Kelompok Transportasi

Wahyu melanjutkan, deflasi Sumbar pada Februari 2020 terutama berasal dari deflasi kelompok transportasi dan kelompok makanan, minuman dan tembakau. Secara umum kelompok transportasi mengalami deflasi sebesar -1,91 persen (mtm) didorong oleh penurunan tarif angkutan udara yang mengalami normalisasi tarif dengan andil sebesar -0,24 persen.

Kelompok makanan, minuman dan tembakau mengalami deflasi sebesar -0,12 persen didorong oleh penurunan berbagai komoditas bahan makanan yang cenderung mengalami penurunan permintaan. Sementara itu, beberapa komoditas penyumbang inflasi di kelompok makanan, minuman dan tembakau antara lain cabai merah masing-masing menyumbang inflasi dengan andil 0,06 persen.

"Cuaca yang kurang mendukung di Sumatera Barat turut mendorong kenaikan harga cabai merah dikarenakan curah hujan tinggi menghambat produksi dan kelancaran distribusi cabai merah," tuturnya.

Di sisi lain, tekanan inflasi pada Februari 2020 juga berasal dari inflasi pada kelompok rekreasi, olahraga dan budaya. Inflasi pada kelompok ini tercatat sebesar 2,55% (mtm), meningkat dibandingkan bulan Januari 2020 sebesar 0,18% (mtm).

Inflasi terutama didorong oleh kenaikan harga buku pelajaran SD dan buku pelajaran SLTP dengan andil inflasi masing-masing sebesar 0,02 persen disebabkan oleh akan masuknya masa Ujian Nasional pada bulan April dan awal Mei 2020.

"Kelompok lain yang turut menyumbang inflasi yaitu kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan nilai inflasi sebesar 0,56 persen (mtm)," pungkasnya kemudian.(*)

Editor: Muhammad Haikal