Kisah Inspiratif Yusrizal, Sempat Dicemooh Hingga Sukses Kembangkan Batik

Yusrizal, Pengusaha Batik Salingka Tabek, Kabupaten Solok
Yusrizal, Pengusaha Batik Salingka Tabek, Kabupaten Solok (Klikpositif)

SOLOK, KLIKPOSITIF - Batik tidak lagi hanya menjadi kebanggaan masyarakat Jawa, namun sudah merambah ke seantero nusantara. Batik telah diproduksi di berbagai daerah di Indonesia dengan beragam motif lokal yang tidak kalah menarik.

Salah satunya seperti yang diusahakan Yusrizal, pengrajin batik tulis Salingka Tabek di Sawah Parik, Jorong Bawah Duku, Nagari Kotobaru, Kabupaten Solok . Pemuda tamatan D3 Komputer ini sukses mengembangkan batik tulis dengan ragam motif khas Kbupaten Solok.

baca juga: Gubernur Sumbar: Menjaga Nilai Minangkabau

Perkenalan pria berusia 27 tahun itu dengan batik dimulai sekitar tahun 2017. Kala itu Yusrizal baru saja menamatkan pendidikan D3 Komputer di salah satu perguruan tinggi swasta di Kota Solok.

"Sekitar bulan Agustus 2017 itu, saya pergi ke kondangan salah satu sahabat, saya lihat keluarganya memakai baju batik semua. Setelah ditanya-tanya, harga satu helainya sekitar Rp300 ribu yang dipesan dari jawa, sudah berapa uang yang terbang ke luar daerah," ungkap Yusrizal saat ditemui di rumah batiknya, Rabu (10/5/2020).

baca juga: KPU Tetapkan Epyardi Asda - Jon Pandu Paslon Terpilih Pilkada Solok 2020

Sepulang dari sana, Yusrizal yang tengah galau tidak ada pekerjaan pasca wisuda mulai berpikir untuk membuat batik sendiri. Saat itu, Ia masih bingung bagaimana caranya untuk membuat kain batik .

Berangkat dari rasa penasarannya, anak ke-tujuh dari sembilan orang bersaudara itu mencoba mencari-cari di internet, bagaimana sehelai kain batik itu dihasilkan. Mulai dari bahan yang digunakan, proses pembuatan dan bagaimana pemasarannya.

baca juga: Kapabilitas APIP Kota Solok Capai Level 3

Setelah menggali lebih jauh dengan berbagai referensi pembuatan batik yang dipelajarinya di internet, Yusrizal membulatkan tekadnya untuk mencoba membuat kain batik sendiri dengan mengusung tema alam Kabupaten Solok .

"Saya belajar di internet, mulai dari peralatan dan bahan-bahan yang digunakan, kemudian proses pembuatannya. Setelah itu, kami beranikan diri untuk mencoba membuatnya sendiri," kisahnya.

baca juga: Pidato Perdana di DPRD, Wako Solok : Kita Bekerja Untuk Seluruh Masyarakat

Bermodalkan uang Rp350 ribu yang dikantonginya, Yusrizal memesan bahan-bahan dan peralatan untuk membatik seperti kompor, canting, pewarna dan kain dari salah satu toko online penyedia bahan batik .

Yusrizal tidak sendiri, dibantu temannya Iswara Putra. Ia belajar untuk membuat batik . Awalnya memang sedikit canggung karena ia bersama temannya belum pernah melihat langsung atau belajar cara membuat batik . Namun kebulatan tekadnya dan dukungan keluarga menguatkan Yusrizal dan Iswara Putra untuk terus mencoba.

"Awalnya kami belajar membatik di teras rumah. Setiap tahapannya kami kerjakan sendiri dan terkadang dibantu oleh keluarga. Masih dalam tahap belajar waktu itu," tuturnya sembari menunjukkan lokasi tempat awal ia membatik.

Dari modal yang mereka miliki, hanya mampu membeli dua helai kain. Kain yang satu digunakan untuk belajar. Yusrizal dan temannya tidak langsung berhasil. Sering gagal dan mengulang kembali. Setelah dirasa pas, maka mulai dipraktekkan ke kain yang satu lagi.

Motif batik yang dibuat didesain sendiri. Motif pertama yang dibuat diberi nama Galugua. Setelah siap, Yusriza memberanikan diri untuk memposting di media sosial. Setelah beberapa hari diposting, ternyata ada yang berminat.

"Saya masih ingat, batik pertama kami yang terjual itu dibeli oleh orang asal Sijunjung sekitar November 2017. Waktu itu terjual Rp150 ribu, dan uangnya kami belikan kain lagi di Padang Panjang," kenangnya.

Sempat Dicemooh

Apa yang dikerjakan oleh Yusrizal bersama temannya tidak berjalan mulus begitu saja, usaha batik yang dilakukannya juga sempat menuai cemoohan dari sebagian orang. Mereka menganggap, tidak mungkin bisa menghasilkan produk batik yang bagus seperti yang ada di jawa.

Namun, cemoohan itu bukannya menyurutkan semangat Yusrizal dan Iswara. Mereka malah semakin termotivasi dan terus belajar. Bermodalkan kain empat helai yang dibeli di Padang Panjang, mereka kembali membuat batik .

"Suka dukanya banyak juga, tidak sedikit juga yang mencemooh dan meremehkan apa yang kami kerjakan, tapi kami anggap itu hal yang biasa dan tanda-tanda kami akan sukses," ceritanya sembari berseloroh.

Batik yang dibuat Yusrizal terus berkembang. Salah satu unggulannya adalah batik tulis dengan ciri khas pewarna tanah liek, kemudian Batik tulis dengan pewarna alami kulit jengkol serta juga ada batik tulis dengan pewarna sintetis dengan kombinasi batik cap.

Sementara itu, untuk motif yang digunakan juga beragam, terutama tema kesuburan alam Kabupaten Solok , Ayam Kukuek Balenggek, Rumah Gadang Urang Kotobaru dan Pesona Kapujan serta lainnya.

"Alhamdulillah, usaha batik kita terus berkembang, saat ini jumlah karyawan yang bekerja di rumah Batik Tulis Salingka Tabek sudah sekitar 11 Orang dan berasal dari masyarakat sekitar, semoga terus berkembang," harapnya.

Usaha yang dilakukan Yusrizal dan temannya semakin terarah setelah mendapatkan bimbingan dari Pemerintah Kabupaten Solok melalui Dinas Koperindag dan UMKM.

Awalnya, karena kesulitan pemasaran, Yusrizal dan Iswara mencoba mendatangi galery UMKM Pemerintah Kabupaten Solok yang ada di kawasan Baypas Selayo.

"Sekitar akhir 2017, kami dengar ada galery UMKM di sana dan kami datangi, seperti orang bodoh aja waktu itu dan kami bilang 'kami membuat batik ini, bisa tidak dititip disini?' dan diterima oleh petugas disana," bebernya.

Semenjak saat itu, usahanya mulai mendapat perhatian. Tahun baru 2018, Rumah Batik Salingka Tabek diundang untuk ikut pameran lokal di kawasan GOR Batu Tupang. Bahkan, dirinya terpaksa berhutang untuk membeli bahan batik yang akan ditampilkan di pameran.

"Tidak ada jual beli saat itu, tapi setidaknya karya Batik kami sudah mulai dikenal oleh masyarakat, setelah itu tahun 2018 kami diajak study banding dan pameran tingkat nasional," ungkapnya sambil tersenyum.

Berdayakan Pelajar Membuat Motif Batik

Salah satu yang unik dari Rumah Batik Salingka Tabek adalah, dalam membuat motif batik yang akan diproduksi, Yusrizal memberdayakan para pelajar yang ada di sekitar tempat tinggalnya.

"Dari pada mereka menghabiskan waktu dengan hal-hal yang tidak bermanfaat, kami ajak mereka untuk membuat motif batik dan motif yang dihasilkan kami bayar," tutur anak pasangan Afrizaldi dan Yusmarni tersebut.

Mayoritas yang sering mengirimkan desain batik adalah anak-anak dari MAN Kotobaru dan Tsanawiyah serta SMP yang tinggal atau kos dekat kawasan Rumah Batik Salingka Tabek. Satu desain bisa dihargai Rp60 ribu, ada yang hang Rp10 ribu.

"Semakin bagus motif atau desain batik yang diberikan, pasti kita hargai dengan lebih tinggi. Lumayanlah untuk menambah-nambah belanja mereka, apalagi anak kos-kosan," sebutnya.

Produk kain batik Rumah Batik Salingka Tabek yang diusahakan Yusrizal saat ini juga sudah merambah pasar berbagai daerah di Indonesia dan menjadi salah satu rujukan untuk belajar membuat batik tulis tanah liek.

Tidak tanggung-tanggung, sebelum COVID-19 merebak, rumah batik Salingka Tabek menerima kunjungan dari daerah Jawa Timur, Riau, Jambi, Bengkulu dan masih banyak daerah lainnya.

"Kalau untuk daerah Sumatra Barat, rata-rata seluruh kabupaten dan kota sudah berkunjung ke sini, nanti juga akan datang ibuk-ibuk dari Persit Kodim 0309/Solok," jelasnya.

Terimbas dan Bangkit dari Wabah Corona

Tidak dipungkiri, wabah virus Corona yang merebak di Indonesia sejak Maret 2020 berdampak kepada berbagai sektor usaha, termasuk usaha batik yang dilakukan oleh Yusrizal.

Mirisnya, bahkan pada masa wabah, usahanya nyaris minim bahkan sempat tidak ada orderan dari pelanggan. Namun hal itu dilalui Yusrizal dan temannya dengan ikhlas. Omsetnya yang mencapai belasan juta sebulan langsung anjlok.

"Alhamdulillah, sejak New Normal ini, sudah mulai lagi datang orderan dari berbagai daerah, dan usaha yang kami lakukan mulai bangkit, mudah-mudahan segera kembali normal seperti sedia kala," harapnya.

Dijelaskannya, untuk menghasilkan batik tulis butuh waktu 3 hari. Motif yang dibuat diserahkan pada pesanan pelanggan. Sementara itu, untuk batik tulis tanah liek butuh waktu sekitar 25 hari.

Dalam satu bulan saat kondisi normal, rumah Batik Salingka Tabek bisa menghasilkan puluhan kain batik beragam motif dan desain. Harganya juga cukup bersaing.

Untuk batik tulis dengan pewarna alami dan sintetis dijual dengan harga terendah dari Rp300 ribu sampai Rp2,8 juta. Harganya tergantung dari tingkat kesulitan motif yang dibuat. Terutama motif Atah Bareh harganya cukup mahal.

"Kalau Batik Tanah liek, harganya berkisar dari Rp300 ribu sampai Rp7 juta. Selain berdasarkan tingkat kesulitan motif, batik tanah liek cukup lama dalam pengerjaannya, banyak digunakan untuk bahan baju, kain selendang dan pakaian adat," tutupnya.

Penulis: Syafriadi | Editor: Rezka Delpiera