Dirut Garuda Indonesia: Ada Sinyal Kebangkrutan, Maskapai Sudah Tak Kuat Lagi Dihantam Corona

Ilustrasi
Ilustrasi (Net)

KLIKPOSITIF - Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Irfan Setiaputra menyebut akan adanya sinyal kebangkrutan maskapai nasional akibat pandemi COVID-19 yang sebelumnya sudah dialami lebih dulu oleh maskapai di sejumlah negara.

"Bapak Ibu mengetahui juga banyak maskapai yang menyatakan kebangkrutan. Di dekat kita ada Thai Airways. Jadi enggak usah terlalu kaget kalau dalam waktu dekat ada maskapai di Indonesia yang tidak tahan lagi," kata Irfan dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi X DPR di Jakarta, ditulis Rabu (8/7/2020).

baca juga: Ada 17 Penambahan Positif COVID-19 di Sumbar per 3 Agustus 2020

Pernyataan tersebut menanggapi usulan diskon yang dinilai tidak mungkin diberikan lagi karena kondisi keuangan maskapai sendiri sudah terpuruk akibat pembatasan penumpang selama pandemi COVID-19.

"Betul penting untuk memperoleh harga murah, tapi mohon dipahami hari ini industri penerbangan mengalami pukulan yang sangat besar, kita jumlah penumpang tinggal 10 persen. Kalau diminta diskon lagi harga yang rendah mungkin klasifikasi kita sebentar lagi menjadi makin sulit," katanya.

baca juga: Viral Wanita Bakar Bendera Merah Putih, Ngaku Diperintah Pimpinan PBB

Salah satu sektor yang erat kaitannya dengan industri penerbangan adalah sektor pariwisata di mana maskapai Garuda sendiri kehilangan penumpang wisatawan mancanegara (wisman) dari sejumlah negara penyumbang terbesar wisman, salah satunya Australia.

Apalagi Australia sudah memberlakukan pelarangan bagi warganya untuk bepergian hingga akhir tahun, termasuk ke Bali.

baca juga: Masih Stabil, Emas Dijual Rp1 Juta Lebih Per Gram

Dia menyebutkan jumlah wisman turun drastis akibat pandemi COVID-19 sebesar 87 persen di April 2020 dan semakin anjlok menjadi 90 persen di Mei 2020.

"Kita berharap pariwisata ini mulai meningkat di bulan Juli 2020 ini, namun kami saksikan ada beberapa yang perlu kita perhatikan dalam 'recovery' (pemulihan) pariwisata ini. Ini kerja sama penting. Karena begitu industri ini pulih, pariwisata akan pulih dengan cepat," katanya.

baca juga: Prabowo Teken Dukungan Gerindra untuk Gibran Jadi Wali Kota Solo

Untuk itu, Irfan mengatakan pihaknya berfokus pada wisatawan dalam negeri dan mengupayakan agar masyarakat kembali percaya diri untuk melakukan penerbangan dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat meskipun berdampak ke pendapatan.

"Jadi, Garuda dan teman-teman di industri operator penerbangan , fokus memastikan new normal dalam pesawat karena penting meningkatkan 'confidence' masyarakat untuk berpergian. garuda menekankan sekali soal ini. Kita fokus sekali ke 'physical distancing'. walaupun kita tahu dari sisi operasi dan pendapatan ini punya pengaruh yang besar. Tapi, buat kami lebih penting lagi yakinkan publik yakin terbang lagi sehingga pulih dari industri lebih cepat," ujarnya.

Upaya kedua yang dilakukan, yakni kerja sama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk melakukan promosi.

"Jadi kita akan 'raise teaser' kembali ke Bali. kedua mendorong masyarkaat indonesia, apabila memutuskan untuk berlibur lagi, berlibur lah di indonesia saja," katanya.

Irfan menambahkan pihaknya juga bekerja sama dengan operator bandara, yakni PT Angkasa Pura I an II serta Kementerian BUMN untuk menginisiasi membuat holding aviasi.

"Di mana AP I dan AP II Garuda Pelita digabungkan jadi satu mempermudah aksi-aksi peningkatan pariwisata satu pintu. Bisa berharap situasi seperti Dubai maupun Qatar dengan kerja sama 'stakeholders' holing aviasi," ujarnya.

Sumber: Antara/Suara.com

Editor: Eko Fajri