Pengamat Ekonomi: Produsen Harus Bisa Hadapi Perubahan Pemikiran Konsumen

Pengamat ekonomi dari Universitas Andalas (Unand), Werry Darta Taifur
Pengamat ekonomi dari Universitas Andalas (Unand), Werry Darta Taifur (KLIKPOSITIF/Fitria Marlina)

PADANG, KLIKPOSITIF - Pengamat ekonomi dari Universitas Andalas (Unand), Werry Darta Taifur mengatakan tantangan bagi produsen makanan dalam menghadapi konsumen yakni menghadapi perubahan pemikiran konsumen. Hal ini harus bisa dibaca oleh produsen, namun tidak semua pihak mampu membaca ini.

"Nah disinilah peran pemerintah dalam mendorong hal ini, jadi pemerintah juga harus memikirkan ini kedepanya, tidak hanya menyediakan dana, namun juga hal lainnya. Gerakan itu yang masih belum ada, itu yang mengkhawatirkan, akhirnya orang yang akan melakukan kegiatan yang tanpa memakai protokol kesehatan. Paling tidak kasih stempel atau stiker di rumah makan yang menerapkan protokol kesehatan covid-19," katanya di Padang.

baca juga: Kasus COVID-19 Naik Drastis di Kabupaten Solok, Lima Hari 6 Kasus Baru

Ia mengatakan banyak langkah-langkah yang bisa dilakukan dalam menjawab perubahan pemikiran itu. "Jika tidak memasang stiker, minimal kasih pengumuman di setiap tempat makan atau usaha untuk menerapkan protokol kesehatan COVID-19 di masa new normal," jelasnya.

"Bisa saja dilakukan dengan mencetak banyak pengumuman sekalian memberikan edukasi kepada masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan, namun saya tidak tahu sejauh manaitu telah dilakukan, namun kita dari akademik sudah memberitahukan soal hal ini, sekarang tinggal dilaksanakan oleh pemerintah," tuturnya.

baca juga: Pemko Padang Kekurangan Anggaran untuk BLT Kedua

Menurutnya kedepan pembelian juga tidak akan banyak menggunakan uang tunai. "Tentunya edukasi non tunai juga harus digencarkan dan orientasi cara berpikir juga harus dikuatkan, karena kedepan akan berubah terus. Anggap lah dua tahun kedepan covid ini belum hilang, maka dua tahun harus bertahan dengan pola hidup ini. Kalau tidak ada inovasi, maka mereka akan kehilangan kesempatan, nah ini adalah resiko keras yang dihadapi," terangnya. (*)

Editor: Fitria Marlina