Bertahan di Tengah Pandemi, Mimi Batik Kota Solok Sasar Pasar Digital

Produk kain batik karya Mimi Batik, Kota Solok
Produk kain batik karya Mimi Batik, Kota Solok (Ist)

SOLOK KOTA, KLIKPOSITIF - Wabah pandemi Corona Virus Desease 2019 (COVID-19) sangat berefek pada Usaha Mikro Kecil Menengah ( UMKM ) yang dilakukan oleh masyarakat, termasuk di Kota Solok .

Pengaruh Covid-19 juga sangat dirasakan oleh usaha batik Mimi yang ada di kawasan Banda Balantai, Kota Solok , Sumatra Barat. Penurunan omset sangat drastis dibanding sebelum wabah.

baca juga: Sekolah Daring Berpotensi Bikin Mata Anak Minus, Ayo Deteksi

Omset usaha yang dikelola Mimi bersama suaminya Nanang Suhardis, turun hingga 80 persen sejak merebaknya virus Corona pada Maret 2020 di Sumatra Barat. Disinyalir, penurunan omset akibat menurunnya kemampuan ekonomi masyarakat.

"Sekitar 80 persen penurunan omset sejak wabah Corona, sebelum wabah biasanya per bulan omset sekitar 10 juta, tapi sejak pandemi omset per bulan hanya sekitar 2 juta rupiah," terang Mimi kala menjawab KLIKPOSITIF , Minggu (2/8/2020).

baca juga: 3 Perantau yang Pulang ke Pariaman Positif COVID-19, Penutupan Posko Utama Satgas Batal

Penurunan omset yang sangat besar membuat pemilik usaha cukup kewalahan, biaya produksi yang dikeluarkan tidak sesuai lagi dengan penghasilan yang didapatkan. Kendati tidak rugi, namun perputaran modal sangat lambat.

Selain sepinya penjualan, usaha yang dirintisnya sejak tahun lima tahun lalu itu juga harus menghadapi kenaikan harga bahan baku batik. Bahan pewarna dan kain mengalami kenaikan yang cukup memberatkan.

baca juga: Besok, Proses Belajar Tatap Muka di Pariaman Dimulai

"Sekarang untuk bahan pewarna saja sudah naik sekitar 200-250 ribu rupiah per kilogram, sebelumnya dibeli 400 ribu rupiah per kilogram, kita langsung ambil dari Solo dan Yogyakarta, kalau kain tidak begitu parah naiknya," terang Mimi.

Menghadapi hal itu, pengrajin terpaksa putar otak dengan memanfaatkan pewarna alam yang bisa diperoleh di lingkungan sekitar dengan biaya murah. Seperti tanah merah (liek), dedaunan dan bahan alam lainnya.

baca juga: Bertambah Lagi, Pasien Corona di RS Wisma Atlet Kini Tembus 1.205 Orang

Kendati demikian, prosesnya juga tentu memakan waktu yang cukup lama. Pengolahan bahan alam cukup ruet dibanding dengan menggunakan bahan pewarna kimia yang lebih mudah.

Terkait sepinya peminat batik, Mimi dan suaminya mencoba pemasaran melalui sarana media sosial (pasar digital). Salah satunya melalui Instagram di akun batik_tarancak_khas_Solok. Dalam akunnya itu, Mimi mengunggah produk-produk hasil karyanya.

Memang dibanding sebelum wabah, pesanan batik dari luar daerah cukup tinggi. Dalam sebulan sekitar 10 pesanan, semenjak wabah, menurun total. Hanya beberapa saja, itupun kalau ada orderan.

"Kita coba bertahan dengan melakukan pemasaran melalui media sosial. Sebab pasar langsung sudah sangat jarang karena adanya pembatasan sosial selama wabah, Alhamdulillah, melalui media sosial ada juga masuk orderan," paparnya.

Produk batik yang dihasilkannya beragam, mulai dari batik cap hingga batik tulis, dengan pewarna alam hingga pewarna kimia. Motif yang ditawarkan juga cukup menarik, khas alam kota Solok seperti Belibis, Bunga Krisan dan lainnya.

"Selain Batik Cap dan tulis, kita juga membuat batik Eco Print dengan memanfaatkan dedaunan yang ada di alam sekitar. Dulunya banyak pesanan produk eco print untuk daerah Bali," tuturnya.

Satu lembar batik cap, dijual Mimi dengan kisaran harga dari 180 ribu rupiah sampai 2 juta rupiah. Sementara untuk batik tulis dimulai dari 500 ribu rupiah sampai 2 juta rupiah, tergantung motif, bahan dan pewarna yang digunakan.

"Kalau untuk dalam daerah, kita buat batik yang lebih terjangkau namun berkualitas, sementara luar kota Solok memang harganya lebih tinggi karena kualitasnya juga kita ditingkatkan, batik tulis untuk pasar luar daerah harga terendah sekitar 1,2 juta rupiah," terangnya.

Produk batik Mimi juga sudah terbilang cukup dikenal di berbagai daerah di Indonesia. Karya batik miliknya juga sudah merambah pasar nasional seperti Bali dan daerah lainnya di Indonesia.

Batik tulis karyanya juga pernah mewarnai kancah internasional. Batik buatan tangan itu pernah digunakan oleh Penari perwakilan Provinsi Sumatera saat pergelaran penampilan seni pada bulan November 2019 di Amerika.

"Kita saat ini masih produksi berupa batik lembaran, kedepannya kita akan olah menjadi produk jadi seperti baju dan produk olahan kain lainnya," tutupnya.

Pihaknya berharap, kondisi wabah cepat berlalu sehingga usahanya kembali bangkit dan terus berkembang. Peran serta pemerintah daerah dalam mendukung produk lokal juga sangat dibutuhkan.

"Biasanya, sebelum wabah, masih banyak pengunjung dari luar daerah, tapi sejak diberlakukannya PSBB dan normal Baru, kunjungan sangat minim, bahkan bisa dikatakan tidak ada dari luar daerah, termasuk juga pameran dan lainnya," tutupnya.

Terpisah, Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi dan UKM Kota Solok , Bujang Putra mengatakan, memang wabah Covid-19 sangat dirasakan dampaknya oleh pelaku UMKM Kota Solok .

"Memang selama masa wabah, sampai saat ini, UMKM kota Solok mayoritas merasakan dampaknya. Rata-rata omset pelaku UMKM di kota Solok menurun sangat drastis," terangnya.

Dikatakannya, sampai saat ini terdata sekitar 1.300 UMKM aktif di kota Solok. Untuk langkah pemulihan kedepannya, pihaknya masih melakukan pendataan terhadap dampak pandemi. Data tersebut akan dikirimkan ke kementrian.

"Kita memang sangat berharap ada kucuran dana dari pusat untuk membantu UMKM kita yang terpukul oleh gelombang Corona, tapi secara umum, semuanya sudah mulai kembali bangkit," tutupnya.

Penulis: Syafriadi | Editor: Rezka Delpiera