China, Rusia, India, Jepang dan Timur Tengah Jadi Pasar Baru Kakao Sumbar

Kakao
Kakao (Istimewa)

PADANG, KLIKPOSITIF - Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Sumbar Syafrizal mengatakan, kakao punya pasar baru diantaranya China, Rusia, India, Jepang dan Timur Tengah.

Namum, petani di Sumatera Barat (Sumbar) enggan menggeluti tanaman kakao , kendati harga jualnya relatif bagus.

baca juga: Gubernur Sumbar Optimis Perda AKB Mampu Ubah Perilaku Masyarakat

Bahkan, Sumbar telah ditetapkan sebagai sentra kakao Indonesia bagian barat oleh Wapres Yusuf Kalla tahun 2016 lalu dan ternyata kini ada sejumlah daerah di Sumbar malah tidak lagi merawat perkebunan kakaonya.

"Kini banyak kakao yang tidak terawat sehingga banyak yang mati terdapat di Kabupaten Padang Pariaman serta diikuti oleh sejumlah daerah lainnya," katanya, Selasa, 22 September 2020.

baca juga: Realisasi KUR Pertanian di Sumbar Masih Rendah, Ini Kendalanya

Dijelaskannya, di Sumbar, Padang Pariaman adalah daerah yang cukup luas perkebunan kakaonya setelah Kabupaten Limapuluh Kota. Kalau total luas lahan kakao di Sumbar itu 145.735 hektar.

"Penyebabnya itu tidak diketahui juga kenapa masyarakat malas untuk mengurus perkebunan kakaonya. Padahal dari segi harga tanaman kakao ini terbilang cukup bagus yakni Rp25.000 hingga Rp30.000 per kilogramnya," ujarnya.

baca juga: Irwan Prayitno Optimis Ekonomi Syariah di Sumbar Tumbuh Bagus

Selain itu bicara perawatannya juga tidak sulit untuk berkebun kakao itu, hanya perlu memangkas serta membersihkan lingkungan tanaman kakaonya. Lalu yang perlu diawasi itu serangan hama seperti tupai.

"Masalah kini kakao tidak dirawat sehingga banyak yang mati. Padahal hanya perlu dipangkas dan dibersihkan tapi masyarakat tidak melakukannya," sebutnya.

baca juga: Pelaku UMKM Sumbar Digoyang COVID-19

Dia juga menyatakan bahwa soal pendampingan dan perhatian soal peremajaan tidak pernah kendor dari pemerintah terutama dari Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan.

Untuk itu pemerintah setempat menganggap bahwa perkebunan kakao sepertinya tidak diminati lagi. Bahkan dikarenakan banyak tanaman kakao yang mati, banyak petani beralih ke perkebunan jagung.

"Kalau tanaman jagung jelas menjanjikan karena di Sumbar sendiri produksi jagung memiliki pangsa pasar yang bagus," sebutnya.

Kakao Sumbar memiliki karakteristik khusus yang tidak dimiliki tempat lain yaitu rasa fruity dengan melting point yang tinggi sehingga tidak mudah meleleh pada suhu setempat.

Tidak hanya berupa dalam bentuk produksi mentah saja yang memiliki peluang yang bagus. Tap masih terbuka peluang untuk pengembangan industri kakao menjadi produk jadi dan produk setengah jadi serta pengembangan pasar dalam negeri.

Selanjutnya, bila melihat dari produksi kakao itu dari 145.735 hektar lahan yang ada jumlah produksinya itu bisa mencapai 66.917 ton. Dengan perhitungan per hektar nya itu bisa memproduksi 1.200 kilogram kakao .

"Kalau jumlah petani kakao di Sumbar itu 213.971 orang yang tersebar di sejumlah daerah," sebut dia.

Untuk diketahui, daerah yang menjadi pengembangan perkebunan kakao itu berada di Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Agam, Kabupaten Lima Puluh Kota, Solok, Kabupaten Tanah Datar, Kabupaten Pesisir Selatan, dan Kota Sawahlunto. (*)

Editor: Joni Abdul Kasir