Pelaku UMKM Sumbar Digoyang COVID-19

Pedagang makanan di Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat
Pedagang makanan di Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat (KLIKPOSITIF/Joni Abdul Kasir)

PADANG, KLIKPOSITIF - Pelaku usaha mikro kecil dan menengah ( UMKM ) di Sumatera Barat (Sumbar) harus berjuang menghadapi badai COVID-19.

Begitu juga dengan koperasi yang menjadi tempat bersandar para pelaku UMKM itu mulai goyah.

baca juga: Jumlah Rakyat Miskin Bertambah, DPR Minta Pemerintah Fokus pada UMKM

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sumbar Zirma Yusri mengatakan, walaupun koperasi yang ada di 19 kabupaten dan kota masih berjalan tapi tidak dalam kondisi baik.

Koperasi yang sebagian besarnya adalah simpan pinjam dan serba usaha mulai terseok-seok karena tingginya angka kredit macet yang tercatat hingga pertengahan tahun 2020. Hal ini mencerminkan bahwa UMKM tengah tidak stabil sehingga pembayaran kredit pinjaman jadi tersendat.

baca juga: Baleg DPR: UMKM Diprioritaskan Dalam UU Ciptaker

"Soal kondisi koperasi di Sumbar ini sebenarnya masih jalan. Tapi untuk sektor usaha memang lagi menurun karena adanya Covid-19 dan kredit macet pun tak terhindarkan," katanya, Sabtu, 26 September 2020.

Koperasi yang tumbuh di kampung Bung Hatta ini sebelum adanya COVID-19 terbilang sebuah koperasi yang sangat bagus. Namun kini dari akarnya yakni UMKM tengah terbatas pergerakannya untuk meningkatkan penjualan mereka. Meski telah menerapkan protokol kesehatan di masing-masing tempat usaha, tapi pelanggan yang datang sangatlah sedikit.

baca juga: Buat Pelaku UMKM, Ada Pelatihan Digital yang Digelar oleh Kominfo

"Saya melihat jika COVID-19 ini berlangsung lebih lama lagi, maka situasi terburuk pastikan akan dilalui oleh koperasi di Sumbar ini. Karena untuk saat ini saja mereka telah mencoba bertahan untuk tetap jalan meski tidak tumbuh," ujar dia.

Zirma menyebutkan setidaknya dengan adanya bantuan stimulus melalui program bantuan produktif untuk usaha mikro sebesar Rp2,4 juta itu bisa memberikan angin segar serta menghapus pesimis pelaku usaha serta orang yang terlibat di sebuah lembaga koperasi .

baca juga: Gubernur Sumbar Optimis Perda AKB Mampu Ubah Perilaku Masyarakat

Di Sumbar ada sekitar 133.000 lebih UMKM yang akan menerima bantuan stimulus itu. Namun dari jumlah itu bisa dikatakan belum sampai 50 persen dan jumlah UMKM yang ada di Sumbar.

Artinya kendati dari sisi bantuan stimulus itu untuk melakukan pemulihan ekonomi, tapi nyatanya di lapangan hanya sebagian kecil yang baru bisa menikmati bantuan stimulus tersebut.

Kondisi yang demikian bila disimpulkan maka sejatinya harapan pemerintah dari bantuan stimulus itu yakni pemulihan ekonomi diperkirakan hanya berjalan lambat, sebab bantuan itu belum merata dinikmati oleh UMKM .

"Kita telah mengusulkan ke pemerintah pusat untuk menambah jumlah UMKM di Sumbar ini mendapatkan program bantuan produktif. Jumlah yang kita usulkan itu 85.000 UMKM yang tersebar di sejumlah daerah di Sumbar," sebutnya.

Zirma mengaku 85.000 UMKM yang diusulkan tidak datang dari seluruh daerah di Sumbar melainkan dari jumlah daerah saja. Pengusulan penambahan penerima program bantuan produktif itu dilakukan oleh dari daerah masing-masing.

"Kalau usaha masyarakat itu bagus, maka dapat dipastikan pula koperasi yang menjadi tempat bersandarnya para pelaku usaha juga turut membaik pula. Karena memang sebagian besar koperasi di Sumbar adalah koperasi simpan pinjam dan koperasi serba usaha," tukas Zirma. (*)

[Hms-Sumbar]

Editor: Joni Abdul Kasir