Harga Minyak Dunia Terus Amblas

ilustrasi
ilustrasi (net)

KLIKPOSITIF - Penurunan harga minyak dunia terus berlanjut. OPEC dan sekutunya menempatkan pasar dalam ketidakpastian dengan menunda pertemuan formal guna memutuskan apakah akan menaikkan produksi pada Januari atau tidak.

Dilansir dari CNBC, Rabu (2/12/2020) minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, ditutup melemah 46 sen, atau 1 persen menjadi 47,42 dollar AS per barel. Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate, merosot 79 sen, atau 1,7 persen, menjadi 44,55 dollar AS per barel.

baca juga: Harga Daging Mahal, Pemerintah Rencana Impor Sapi Meksiko dan Australia

Organisasi Negara Eksportir Minyak , Rusia dan sekutu lainnya, kelompok yang dikenal sebagai OPEC Plus, menunda pembicaraan tentang kebijakan produksi tahun depan. OPEC Plus diprediksi mengurangi pemotongan produksi saat ini 7,7 juta barel per hari (bph) sebesar 2 juta bph mulai Januari.

"Namun, kelompok tersebut telah mempertimbangkan untuk memperpanjang pemotongan yang ada sekitar 8 persen dari permintaan global hingga beberapa bulan pertama 2021, posisi yang didukung oleh pemimpin de facto OPEC , Arab Saudi," kata narasumber.

baca juga: Kemenag Perpanjang Kebijakan Keringanan UKT PTKIN

Rusia, sementara itu, mendukung peningkatan secara bertahap. Pasokan tambahan itu akan memukul reli baru-baru ini yang membuat harga melonjak sekitar 27 persen pada November, dan beberapa negara khawatir tentang harga yang lebih rendah karena permintaan tetap lemah dan infeksi Covid-19 meroket.

"Grup itu mungkin akan menemukan beberapa kompromi untuk menyelamatkan muka, dengan perpanjangan yang singkat menjadi hasil yang paling mungkin diikuti oleh pengembalian produksi secara bertahap," kata Helima Croft, analis Royal Bank of Canada.

baca juga: Dirotasi PDIP ke Komisi VII, Ribka: 17 Tahun Urus Orang Sakit, Sekarang Urus Minyak

"Meski demikian, perselisihan terbaru ini bukan pertanda baik bagi kohesi kolektif pada 2021 ketika optimisme vaksin meningkat dan produsen mengantisipasi pemulihan yang kuat," tambahnya.

Kedua tolok ukur itu reli baru-baru ini didorong harapan vaksin Covid-19 akan meningkatkan ekonomi global dan permintaan bahan bakar, dibantu oleh ekspektasi bahwa produsen minyak bakal mengendalikan produksi dengan ketat di tengah gelombang baru virus tersebut.

baca juga: Polisi Jaga Toko dan SPBU Selama Masa Darurat Gempabumi Sulbar

Editor: Ramadhani