Sepanjang Tahun 2020 Harga Minyak Dunia Anjlok 20 Persen

Ilustrasu
Ilustrasu (Net)

KLIKPOSITIF - Selama tahun 2020 harga minyak dunia anjlok hampir seperlimanya atau sekitar 20 persen imbas pandemi virus corona.

Minyak sangat terdampak dari pandemi karena hampir sebagian besar negara-negara dunia melakukan penguncian atau lockdown demi menekan penularan virus corona.

baca juga: Presiden Beri Target Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 5 Persen

Mengutip CNBC, Jumat (1/1/2021) pada hari Kamis hari terakhir perdagangan tahun 2020, harga minyak mentah Brent diperdagangkan turun 18 sen atau 0,4 persen pada 51,45 dolar AS per barel, sementara harga minyak West Texas Intermediate (WTI) kehilangan 0,1 persen atau 5 sen, menjadi 48,35 dolar AS per barel.

Namun harga ini jauh lebih baik dua kali lipat dari posisi terendah satu dekade yang terlihat pada bulan April, melewati setahun terakhir yang menandai harga negatif pertama untuk WTI yang mengejutkan investor secara global.

baca juga: Pasokan Menipis, Harga Minyak Dunia Kembali Melambung

Kenaikan harga minyak dunia yang terjadi pada saat ini didukung oleh persediaan minyak mentah Amerika Serikat (AS) yang tidak melebihi kapasitas dari permintaan.

Selain itu, harga minyak dunia juga didukung oleh penggunaan vaksin Covid-19 kedua yang disetujui oleh otoritas Inggris.

baca juga: Emas Dunia Terus Terpuruk, Terpicu Gerak Positif Dolar

Harga reli setelah laporan Energy Information Administration (EIA) menunjukan persediaan minyak mentah turun 6,1 juta barel dalam pekan terakhir menjadi 493,5 juta barel.

Namun, para pedagang mencatat bahwa persediaan minyak mentah AS masih mengakhiri tahun 2020 dengan 10 persen lebih tinggi dari pekan terakhir 2019.

baca juga: Wamenkeu: Vaksinasi dan Insentif Perpajakan Jumpstart Ekonomi 2021

Persetujuan penggunaan vaksin Covid-19 AstraZeneca oleh otoritas Inggris, meningkatkan harapan normalisasi perjalanan dan pekerjaan yang lebih cepat.

Diketahui Inggris menjadi negara yang pertama menyetujui vaksin Covid-19 yang dikembangkan oleh Universitas Oxford dan AstraZeneca.

Editor: Eko Fajri