Harga Minyak Dunia Bergerak Fluktuatif, Dampak Kekhawatiran Permintaan BBM

Minyak
Minyak (net)

KLIKPOSITIF - Harga minyak dunia bergerak fluktuatif karena penyebaran varian Delta Covid-19 yang memicu kekhawatiran tentang permintaan bahan bakar.

Dilansir dari CNBC pada Selasa (27/7/2021) minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, ditutup naik 40 sen, atau 0,5 persen menjadi 74,50 dolar AS per barel. Sementara, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate, melemah 16 sen, atau 0,2 persen menjadi menetap di posisi 71,91 dolar AS per barel.

Di awal sesi, kedua tolok ukur merosot lebih dari 1 per barel dolar AS. "Selera risiko jelas meningkat besar-besaran selama seminggu terakhir dan sama seperti aset berisiko lainnya, minyak mengambil jeda menjelang beberapa hari yang intens," kata Craig Erlam, analis OANDA.

baca juga: Transaksi Selasa Pagi, IHSG Kembali Bergerak Menguat

"Pemulihan kuartal kedua membuat denyut nadi berpacu pada prospek apa yang akan datang. Gelombang Covid berikutnya adalah risiko penurunan, tetapi optimisme masih kuat dan untuk alasan yang baik," tambahnya.

Kasus virus corona terus meningkat selama akhir pekan lalu, dengan beberapa negara melaporkan rekor lonjakan harian dan memperpanjang tindakan penguncian. China, importir minyak mentah terbesar dunia , juga mencatat peningkatan kasus Covid-19. Beberapa orang khawatir impor minyak China tahun ini dapat tumbuh pada tingkat paling lambat dalam dua dekade meski kenaikan tingkat penyulingan yang diprediksi pada semester kedua, karena tindakan keras Beijing terhadap penyalahgunaan kuota impor dikombinasikan dengan dampak dari harga minyak mentah yang tinggi.

baca juga: Riset Ungkap Mobil dengan Teknologi Modern Bisa Tekan Angka Kecelakaan

Laporan dari India juga menunjukkan permintaan minyak tertekan, kata analis Commerzbank."Impor minyak pada Juni turun ke level terendah sembilan bulan, sementara pemrosesan minyak mentah hanya sedikit di atas level terendah Mei, yang dipengaruhi oleh pembatasan pandemi," kata Commerzbank.

Editor: Ramadhani