Menjadi Pahlawan bagi Orang Tua dan Petani Panjat Pinang di Masa Pandemi

Sepatu Panjat Pinang
Sepatu Panjat Pinang (KLIKPOSITIF/Fitria Marlina)

PADANG, KLIKPOSITIF - Sore itu, matahari masih gagah menunjukkan sinarnya, walau waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 Wib. Saya baru saja sampai di sebuah bengkel di Desa Titian Batu, Sungai Rotan Cupak, Solok, Sumatera Barat pada Rabu, 24 November 2021. Saat itu, dua orang lelaki sibuk merakit potongan besi yang sudah dipotong-potong. Sedangkan seorang lelaki lainnya, mengamati dengan serius apa yang sedang dirakit dua lelaki itu.

Dialah Firdaus yang sedang mengamati pekerjaan dua orang karyawannya di bengkel tersebut. Lelaki 26 tahun itu tengah memastikan produksi alat panjat pinang yang dipesan oleh kliennya dari daerah Timur Indonesia berjalan baik.

baca juga: Shopee dan Kodam IX/ Udayana Kolaborasi Bangun Pompa Air Bersih di NTT

"Ini berawal dari melihat kesusahan sang ayah saat mengambil buah pinang di ladang keluarga tahun 2017 lalu. Batang pinang itu kan tinggi ya, sedangkan alat yang digunakan hanya galah panjang yang diikatkan sabit di ujung atasnya untuk menurunkan pinang. Saat saya melihat itu, ayah saya sangat kesusahan. Maka setelah pulang ke rumah, saya berpikir apa alat yang kira-kira bisa digunakan ayah untuk mempermudah mengambil pinang," katanya membuka pembicaraan.

Setelah beberapa waktu, akhirnya timbullah ide membuat alat yang mudah dan praktis untuk memanjat batang pinang, yakni sepatu untuk memanjatnya. "Setelah melakukan berbagai riset dan penelitian sendiri, akhirnya dibuatlah sepatu panjat pinang dengan model petak (persegi). Saat diuji coba, hal itu ternyata memudahkan bagi ayahnya dan orang lain dengan profesi sama untuk mengambil pinang. Karena memang praktis, maka di tahun yang sama ada orang yang mulai memesan produk tersebut," jelas alumni Universitas Andalas (Unand) Padang ini.

baca juga: Shopee Mulai Kelas Perdana Program Bisnis Digital di SMK Negeri 1 Bogor

Dari tahun 2017 hingga akhir 2018, sepatu panjat pinangnya mulai populer oleh beberapa kalangan di Kota dan Kabupaten Solok. Ada yang memesan langsung ke bengkelnya dan ada yang memesan via media sosial. "Karena pada masa itu, pemasaran masih dilakukan di media sosial dan di bantu pihak keluarga. Selain itu, promosi dari mulut ke mulut juga membuat sepatu ini dikenal banyak orang. Pada masa itu, pesanannya mencapai 10 buah per bulan," terangnya.

Perubahan Model

baca juga: UMKM Bangkit Bersama Shopee di Tengah Pandemi

Akhir tahun 2018, Firdaus melakukan inovasi dengan mengubah bentuk atau model sepatunya dari bentuk petak (persegi) menjadi bentuk bulat. "Bentuk bulat ini memiliki keunggulan lebih mudah karena bisa diputar 360 derajat, lebih cepat saat turun dari batang pinang dan pas di lingkar batang karena setengah lingkaran, dan proses produksi lebih cepat," terangnya.

Disisi lain, ini juga menumbuhkan minat pembeli, sehingga meningkatkan jumlah pemesanan. "Apalagi setelah produk ini dinyatakan menang sebagai terbaik III tingkat nasional dalam ajang pemuda pelopor yang diadakan oleh Kementerian Olahraga tahun 2018. Masyarakat di lingkup nasional mulai kenal dan pesanan mulai datang dari penjuru Indonesia," paparnya.

baca juga: 5 Manfaat Baik Beras Shirataki untuk Kesehatan Tubuh, Pengganti Terbaik Nasi!

Bergabung dengan Shopee dan Banjir Pesanan di Masa Pandemi

Melihat jumlah pemesanan yang mulai meningkat setelah ajang tersebut di media sosial, maka Firdaus dengan langkah cepat segera mengambil peluang untuk memasarkan produknya di platform e-comerce, yakni Shopee .

"Ada beberapa pertimbangan mengapa saya memilih Shopee sebagai platform berjualan, diantaranya, aplikasi ini mudah dimengerti oleh masyarakat. Ketika melihat Shopee , fitur yang ditawarkan mudah; tinggal lihat barang, masukkan keranjang, checkout, dan bayar, maka barang akan sampai di rumah dalam beberapa hari. Selain itu, voucher gratis onkir yang ditawarkan platform ini menjadi daya tarik bagi masyarakat unuk membeli. Dan yang paling istimewa, Shopee menyediakan COD bagi konsumen dan ini memberikan keuntungan bagi saya, karena 90 persen konsumen saya adalah COD," paparnyaa.

Setelah bergabung dengan Shopee , jumlah pemesanan dan jangakauan penjualan sepatu panjat pinangnya meningkat hingga 400 persen. "Jika sebelumnya pemesanan per bulan hanya 10 buah, setelah bergabung dengan Shopee , pemesanan mencapai 50 buah dengan pangsa pasar ke Aceh, Medan, Riau, Jawa dan sekitarnya, Lombok, hingga Papua," jelasnya.

Diakui Firdaus, pandemi tak begitu memberi pengaruh yang luar biasa bagi usaha yang dijalankannya. Saat ini, ia telah memperkerjakan dua orang di bengkelnya untuk memenuhi permintaan. "Alhamdulillah, saat ini saya bisa memperkerjakan dua orang di bengkel saya untuk memenuhi kebutuhan," paparnya.

Sepatu Panjat Pinang ini dibandrol dengan harga Rp250.000,- hingga 300.000,-. Toko Sepatu ini bernama Heaven Olshop di Shopee . "Karena adanya peningkatan, kita juga terus berinovasi dengan alat-alat lainnya untuk memenuhi kebutuhan pasar, yakni alat pembelah pencongkel buah pinang, pengiris buah pinang," tuturnya.

Firdaus meyakini, prospek pasar untuk usaha sepatu panjat pinangnya ini kedepan sangat menjanjikan. "Prospek pasarnya sangat luas dan luang lingkup dengan penduduk Indonesia yang mencapai ratusan juta ini sangat luas. Semoga kedepan juga bisa tembus pasar ekspor luar negeri," harapnya.

Senada dengan itu, Pengamat Ekonomi Universitas Andalas, Prof.Dr. Syafruddin Karimi, SE,MA mengatakan, dampak UMKM yang berkolaborasi dengan e-comerce dalam pembangunan ekonomi di masa pandemi merupakan hal baik dan kesempatan baik buat UMKM memperluas pasar, terutama di masa krisis pandemi. Makin banyak UMKM yang bisa memanfaatkan digital marketing makin baik buat perluasan omset.

"Kalau kita bicara UMKM, umumnya padat tenaga kerja. Peningkatan omset akan naikkan produksi, selanjutnya akan perluas kesempatan kerja. Pengangguran akan turun. Bila kenaikan transaksi sebesar 91% tersebut dominan kontribusi UMKM, dampaknya terhadap penurunan pengangguran akan juga besar. Seberapa besar dampaknya setiap 1% kenaikan omset terhadap penurunan pengangguran memang perlu diteliti. Namun saya percaya itu akan besar penurunan pengangguran dengan pesatnya kenaikan omset UMKM dengan e-commerce," jelasnya.

Menurutnya, standar kualitas produk mesti dipertahankan dan ditingkatkan. Bila pada belanja pertama seorang konsumen merasa puas, dia tidak keberatan memberi bintang 5. Besar kemungkinan dia akan ulang pesan. Pada kesempatan kedua ini, produsen jangan sampai lengah yang membuat kecewa konsumen. Kalau kecewa pada pesanan kedua, dia tak akan datang lagi, bahkan akan menurunkan rating penjual. Standar kualitas mesti menjadi prioritas oleh UMKM.

"Harapan kita kolaborasi akan makin kuat. UMKM dan kebijakan pendukungnya mesti sama sama peduli untuk maju. Bisnis pengantar barang pada tingkat lokal mesti mendapat perhatian juga," ucapnya.

Editor: Fitria Marlina